Cerita Al-Quran tentang Kejadian-kejadian Ajaib oleh Selain Nabi

300

Oleh: Ustadz Ahmad Mundzir (Pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang)

Karamah adalah suatu pemberian Allah subhanahu wa ta’ala atas kejadian luar biasa (khariq al-‘âdah) yang diberikan kepada wali atau kekasih Allah. Eksistensi karamah diakui secara sepakat oleh empat mazhab. Ada beragam dalil Al-Quran yang menunjukkan bahwa kejadian di luar kebiasaan memang terjadi dan tidak hanya dianugerahkan kepada para nabi saja.

Ada beberapa contoh yang bisa dilihat. Di antaranya adalah kisah ibunda Nabi Isa yang bernama Maryam. Maryam bukanlah profil seorang nabi. Sudah semestinya tidak pernah ada nabi dari kaum hawa. Meski demikian, Maryam yang tidak nabi ternyata juga mendapat keistimewaan dan mengalami kejadian di luar kewajaran.

Sayyidah Maryam mendapatkan kiriman makanan dari surga melalui Malaikat Jibril yang dikirimkan langsung ke kamar tempat di mana Maryam biasa melaksanakan ibadah (mihrâb), sampai-sampai Nabi Zakaria saat memasuki ruangan tersebut merasa heran: bagaimana bisa buah-buahan yang biasanya berbuah di satu musim kemarau saja atau musim hujan saja hadir dalam satu waktu, juga padahal tidak ada seorang pun yang memasuki tempat ibadah Maryam?

Kejadian ini disebutkan dalam Al-Quran:

كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَامَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ

Artinya: “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” (QS Ali Imran: 37)

Cerita ashâbul kahfi atau yang berarti para penghuni goa merupakan salah satu bukti lain bahwa karamah diceritakan dalam Al-Qur’an, persisnya pada Surat Al-Kahfi. Dalam kisahnya, ada tujuh orang pemuda yang lari dari kejaran raja zalim bernama Dikyanus kemudian mereka tidur di dalam sebuah goa selama 309 tahun lamanya. Selain itu, mereka dikisahkan bisa berbincang-bincang dengan anjing yang menyertai mereka. Tentu hal yang seperti ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan atas kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.

Ashif bin Barkhiyya adalah salah satu orang shalih, bukan nabi. Ia hidup di masa Nabi Sulaiman. Ashif pernah diberi kemampuan luar biasa dari Allah subhanahu wa ta’ala yaitu saat Nabi Sulaiman menawarkan kepada masyarakatnya untuk memindahkan singgasana Balqis. Jin Ifrit mengaku, ia mampu memindahkan singgasana yang dimaksud ke hadapan Sulaiman sebelum majelis yang sedang berlangsung dari pagi hingga siang tersebut bubar, tapi Ashif sanggup memindahkan singgasana lebih cepat dari itu. Kira-kira seumpama pandangan diarahkan ke atas lalu berpindah pandangan, singgasana sudah tiba-tiba hadir  atas kuasa Allah subhanahu wa ta’ala.  Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Artinya: “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS An-Naml: 40)

Karamah, selain dalam Al-Qur’an juga disebutkan dalam cerita para sahabat. Di antaranya adalah cerita Sayyidina Umar. Dalam sebuah khutbah Jumat yang disampaikan Umar, tiba-tiba Umar mengatakan “Wahai Pasukan, hati-hati, hindari gunung itu, waspadalah!” Di waktu yang sama persis, pasukan perang yang sedang berada di gunung pada negara yang jauh di sana mendengar peringatan Umar.

Hal ini menunjukkan dua karamah Umar. Pertama, Umar tahu posisi pasukan dan musuh yang tidak kasat mata. Kedua, suara Umar yang secara normal hanya terdengar di dalam masjid atau orang-orang yang berada tidak jauh darinya, namun kali ini suaranya bisa tembus melesat sangat jauh antarnegara. Bukankah ini yang dinamakan karamah?

Yang perlu menjadi catatan penting, kejadian luar biasa yang dimaksud di atas adalah kejadian yang tidak lazim. Kalau membahas antara biasa dan luar biasa, semua ciptaan Allah adalah luar biasa. Hanya saja karena biasa dilihat orang, maka banyak yang menganggap menjadi biasa. Kita tetap harus meyakini itu luar biasa.

Allah menciptakan hujan atas segala keunikan yang luar biasa hebat. Namun, karena kita biasa menyaksikan, kita pun mudah menganggap itu adalah hal biasa. Begitu pula kita menyaksikan Allah tidak malu membuat nyamuk sebagai perumpamaan. Bagaimana rumitnya ciptaan bernama nyamuk: detail lambung, usus, hingga organ-organ dengan ukuran yang sukar dijangkau indra manusia. Dalam ususnya pun, ada bakteri pengurai makanan yang kecilnya seberapa, apakah itu bukan kerumitan yang luar biasa? Tapi karena kita biasa menyaksikan dan kurang meneliti secara mendalam, maka kita akan menganggap itu adalah hal yang biasa.

Sekali lagi, mu’jizat, karamah atau kejadian di luar itu adalah ciptaan Allah yang luar biasa. Namun, perlu pula dicatat bahwa kejadian-kejadian “biasa” di sekitar kita pun sebenarnya luar biasa. Hal-hal itu terlihat “tidak biasa” karena kesadaran kita tentang keluarbiasaan di baliknya belum kita sepenuhnya kita dapatkan. Tak ada ciptaan Allah yang tidak luar biasa, tidak ajaib, bagi orang-orang yang mau merenunginya dengan seksama. Wallahu a’lam. (*)

** Dikutip dari NU Online.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here