CEO LAZ Forum Bahas Evaluasi Regulasi Zakat

440

Jakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum Forum Zakat (FOZ), Bambang Suherman mengatakan, saat ini ia melihat semangat berislam di tanah air sedang tumbuh.

“Ini menjadi momentum yang baik bagi para pegiat zakat untuk menjadikan sebagai pintu masuk dalam memperkuat gerakan kita agar tegaknya syariat zakat,” kata Bambang, pada acara CEO LAZ Forum yang digelar di Hotel Amaroossa, Jakarta Selatan, Rabu (23/10/2019).

Dikatakan Bambang,  CEO LAZ Forum merupakan high level agenda yang akan berlangsung selama dua hari dengan melibatkan 135 anggota Forum Zakat yang berasal dari seluruh Indonesia.

Kegiatan tersebut adalah ruang bagi para Pimpinan/CEO/Direktur Organisasi Pengelola Zakat anggota FOZ untuk saling memberikan gagasan, masukan dan informasi untuk memperkuat gerakan zakay Indonesia yang dikelola melalui FOZ.

Bambang berharap adanya proses evaluasi bagi regulasi zakat. Karena menurutnya masih ada banyak catatan-catatan yang perlu dibicarakan bersama, untuk nanti hasil evaluasinya harus disahkan sebagai usulan produktif kepada pemerintah.

“Ada empat poin besar yang harus kita saksikan sebagai yang masuk pengambil keputusan. Pertama, memberikan ruang bagi negara dan masyarakat untuk menumbuhkan zakat di Indonesia. Kedua, agar tata kelola regulasi zakat di Indonesia dapat mengakomodir kearifan budaya, kultural yang ada selama ini,” jelasnya.

Ketiga, lanjutnya, insentif dan pengawasan. FOZ menyadari bahwa hal ini akan menguat dan masyarakat akan terlibat, resources akan dikelola menjadi lebih besar.

“Maka, harus ada insentif kuat bagi masyarakat untuk ikut terlibat secara alami tapi pada saat bersamaan, kami juga menekankan adanya pengawasan yang lebih baik,” bebernya.

Ia memahami bahwa konstruksi undang-undang zakat yang ada hari ini adalah mencoba memperkuat aspek penataan dan tata kelola kelembagaan.

FOZ mendorong agar ada fungsi yang lebih kuat, ada pengawasan yang lebih bagus. Namun, mekanismenya nanti sebaiknya diusulkan lebih rapi, agar operator dan regulator bekerja di ruangnya masing-masing.

“Dan yang terakhir adalah  kolaborasi. Angka kemiskinan kota, itu lebih tinggi daripada kemiskinan yang ada di pedesaan. Maka perlu ada model riil bagaimana zakat berperan dalam pengelolaan kemiskinan di kota. Dan partner utamanya adalah pemerintah, dalam hal ini gubernur dan walikota dan bupati,” pungkasnya.

Pembukaan acara CEO LAZ Forum dihadiri oleh berbagai tokoh seperti KH Abdullah Gymnastiar, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag Fuad H. Muhammad Fuad Nasar, Agus Sartono Deputi Menteri Bidang Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), serta Sekjen FOZ Nana Sudiana. (Way)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here