Catatan Nakal Tentang Khilafah

341

Oleh: Imam Shamsi Ali (Imam di New York & Presiden Nusantara Foundation)

Di saat kita berada dalam suasana yang emosional dan cenderung membawa segalanya ke garis ekstrim mungkin masanya untuk kita belajar kembali memahami segala sesuatu dengan “akal sehat” dan “mata imbang”.

Memang di saat fanatisme meninggi karena ragam faktor, termasuk faktor politik, akal cenderung dikecilkan bahkan dikucilkan. Akibatnya penglihatan menjadi sempit bahkan kabur melihat titik-titik cahaya (kebenaran).

Masih terngiang di benak saya sekitar 9 tahun lalu (2010), ketika itu di Amerika isu Syariah menjadi sebuah kata yang sangat menakutkan. Para petinggi politik, khususnya kalangan Republikan, menjadi pahlawan anti Shariah yang getol.

Salah satunya adalah Newt Gingrich, mantan Speaker of the House (Kepala DPR Amerika). Lucunya justru Speaker Gingrichlah yang pertama kali memberikan izin kepada pegawai Muslim di Kongress Amerika untuk melaksanakan Jumatan di gedung Capitoll Hill. Jumatan adalah bagian terpenting dari Syariah.

Beban kepada warga Muslim Amerika cukup berat dengan politisasi Syariah ini. Mungkin salah satu contoh terdekatnya adalah ketika komunitas Muslim berupaya mendirikan masjid dekat Ground Zero. Masjid ini mereka kampanyekan sebagai simbol kemenangan komunitas Muslim sekaligus Markaz penegasan Syariah.

Akibatnya masyarakat Amerika bangkit dan melakukan resistensi terhadap rencana pendirian masjid tersebut. Di New York misalnya 70 persen penduduk kota dunia itu menentangnya.

Saya menilai penyebab sebagian warga Amerika menentang dan takut dengan Syariah ini karena mereka memahaminya berdasarkan pemahaman dan defenisi kaum radikal. Karenanya mereka selalu memberikan contoh dengan contoh-contoh kasus. Salah satunya adalah contoh pemahaman Syariah di Afghanistan oleh kelompok Taliban.

Alhamdulillah sejak beberapa tahun ini kata Syariah tidak lagi menjadi isu yang ditakutkan. Sebaliknya di mana-mana praktek Syariah tumbuh menjamur. Dari restoran halal, tokoh makanan halal, hingga ke Islamic mortgage dan finance (keuangan dan perbankan) digandrungi. Bahkan di saat terjadi keambrukan perbankan di Eropa sistim keuangan halal tetap booming (tumbuh).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here