Catatan dari Tanah Suci (6): Bersama Badai, Bermiliar Malaikat Turun ke Gurun Arafah

786

Oleh: Helmi Hidayat

Saya bersama seluruh konsultan ibadah haji berangkat ke Gurun Arafah Ahad 8 Dzulhijjah menjelang magrib, ketika angin puting beliung mulai menggulung kota suci Makkah. Dari dalam bus saya melihat angin berembus kencang, menerbangkan setiap sampah dan beberapa barang dagangan kaki lima di trotoar.

Dari informasi yang saya terima, kiswah Kabah yang berat pun sore itu sampai terbang diembus topan, membuat Kabah jadi setengah telanjang. Ini tumben. Makkah biasanya kering nyaris tanpa angin.

Tak lama hujan turun ketika bus yang membawa kami mendekati tanah Arafah. Kaca bus yang tak pernah disiram sore itu lumayan bersih oleh hujan. Di Makkah, hampir semua mobil memang nyaris tak pernah dicuci. Mulai dari Camry, Mercedes, BMW bahkan Jaguar diparkir di pinggir jalan dan dibiarkan dekil mirip kandang ayam.

Tak ada air tanah bisa disedot untuk membasuh mobil-mobil mewah itu. Kota suci ini memang terdiri atas batu, batu, dan batu. Ke bawah sedalam 100 meter adalah batu, ke atas gunung-gunung dan bukit-bukit juga terdiri atas batu. Untung gadis-gadis Arab dan onta tidak terbuat dari batu!

Saat bus memasuki tanah suci Arafah, saya lihat semua pohon di sana ruku, sebagian bahkan hampir sujud, ditiup angin sangat kencang. Karena sejumlah tenda terlihat roboh, saya sangat khawatir pohon-pohon itu tumbang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here