Catat! Ini 22 Adab Makan dan Minum dalam Islam

25611

13. Tidak duduk dengan bersandar

Abu Juhaifah mengatakan, bahwa dia berada di dekat Rasulullah Saw., kemudian Rasulullah berkata kepada seseorang yang berada di dekat beliau, “Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Bukhari no. 5399).

14. Tidak makan dan minum dengan wadah dari emas dan perak

Disebutkan dalam hadits Hudzaifah bin al-Yaman, Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kamu minum dengan gelas (yang terbuat) dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan pada piring yang terbuat dari emas dan perak, karena sesungguhnya yang seperti itu adalah untuk mereka (orang kafir) di dunia, dan buat kamu di akhirat. (Muttafaq ‘alaihi).

15. Dilarang makan dan minum di jamuan yang menyediakan khamr

Rasulullah Saw. bersabda: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada meja makan yang di situ dihidangkan khamr (minuman keras)”. (HR. Ahmad 1/20, Irwaaul-Ghalil 7/6-8 no. 1949).

16. Tidak tengkurap atau telungkup

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Burqan dari Az Zuhri dari Salim dari Ayahnya dia berkata, “Rasulullah Saw. melarang seseorang makan sambil telungkup.

17. Tidak berlebih-lebihan dan boros

Berlebih-lebihan dalam segala sesuatu adalah tercela dan dilarang. Apalagi dalam masalah makanan dan minuman. Allah berfirman: Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31).

18. Menyantap sesudah makanan dingin

Dari Asma’ binti Abu Bakar, jika beliau membuat roti Tsarid maka beliau tutupi roti tersebut dengan sesuatu sampai panasnya hilang. Kemudian beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya hal tersebut lebih besar berkahnya.” (HR. Darimi no. 2047 dan Ahmad no. 26418, Syaikh al-Albani memasukkan hadits ini dalam Silsilah Shahihah no. 392).

Abu Hurairah mengatakan, “Makanan itu tidak boleh disantap kecuali jika asap makanan yang panas sudah hilang.” (Dalam Irwa’ul Ghalil no. 1978 Syaikh al-Albani mengatakan shahih diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, 7/2580).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here