CAIR Buka Pusat Anti-Bullying di Los Angeles

59

Muslim Obsession – Bagi banyak Muslim Amerika, serangan 9/11 memiliki efek yang luas, mengubah hidup mereka selamanya, dan mendapati diri mereka dipaksa untuk mengalami ketakutan, kebencian, dan prasangka terhadap Islam.

Banyak penelitian telah mengungkapkan bahwa salah satu dampak negatif dari insiden tersebut adalah bahwa bullying telah menjadi salah satu ancaman terbesar yang mempengaruhi komunitas kulit hitam/Afrika, Arab, Timur Tengah, Muslim, dan Asia Selatan.

Untuk memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan, sebuah pusat baru yang berfokus pada pencegahan kebencian dan penindasan dibuka pada hari Rabu, 3 November, di Anaheim, Los Angeles.

Pusat Pencegahan Kebencian dan Penindasan, pertama dari jenisnya, didirikan oleh Dewan Hubungan Amerika-Islam Council of American-Islamic Relations (CAIR) dan akan bermarkas di kantor pusat cabang Los Angeles.

“Untuk komunitas Muslim, ada beberapa area utama di mana kebencian mempengaruhi kita,” ujar direktur interim Masih Fouladi dalam konferensi pers hari Rabu (3/11/2021) Orange County Register.

“Masjid adalah salah satu tempat pertama di mana kebencian terwujud,” ungkapnya.

Pusat baru ini akan memimpin “upaya multifaset” untuk memerangi kejahatan kebencian dan intimidasi, terutama di sekolah dan kampus.

“(Kampus) bukan lagi tempat untuk berbagi pemikiran bebas,” katanya, seraya menambahkan bahwa anggota komunitas yang “terlihat Muslim” seperti wanita berhijab, juga menjadi sasaran kebencian.

Peresmian pusat baru ini dilakukan beberapa hari setelah CAIR California merilis Laporan Bullying pada 29 Oktober 2021.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa sekitar 56% siswa Muslim di California mengatakan mereka merasa “tidak aman, tidak diinginkan, atau tidak nyaman” di sekolah karena identitas agama mereka.

Temuan utama dari hasil survei CAIR-CA tahun 2021 menunjukkan bahwa siswa Muslim di California terus melaporkan intimidasi, pelecehan, dan diskriminasi Islamofobia tingkat tinggi oleh teman sebaya dan orang dewasa, baik secara langsung maupun online.

Responden melaporkan bahwa pengalaman ini berdampak negatif pada pengalaman pendidikan dan tingkat kenyamanan mereka di sekolah.

Pusat tersebut juga bertujuan untuk berkolaborasi dengan non-Muslim juga untuk mempelajari tentang masalah yang mempengaruhi mereka, kata Fouladi.

“Kami ingin mencari solusi bersama-sama,” katanya.

“Kebencian yang kami alami bersifat sistemik, dan perubahan tidak akan terjadi hanya dengan satu komunitas. Kita perlu bekerja sama.”

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here