Cabut Dukungan dari PBB, FPI Tak Mau Main Dua Kaki

536
juru bicara FPI Slamet Ma’arif
Juru bicara FPI Slamet Ma’arif (Foto: breakingnews)

Jakarta, Muslim Obsession – Jalan menuju Pilpres 2019 menyajikan drama menegangkan. Perseturuan antara Front Pembela Islam (FPI) dan Partai Bulan Bintang (PBB) kian memanas.

Tak terima dengan komentar kader FPI yang menyudutkan PBB, Ketua Umum PBB  Yusril Ihza Mahendra menantang Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab untuk membuat partai politik.

Bukan hanya itu, Yusril juga mempersilakan kader FPI yang menjadi Caleg PBB untuk mundur daripada menjadi duri dalam daging. Polemik antara PBB dan FPI dilatarbelakangi karena keputusan PBB yang mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019.

Baca juga:

Jadi Caleg PBB, Novel Bamukmin Haramkan Namanya Dicoblos

PBB Tak Takut Melawan Maklumat Habib Rizieq

Bang Yusril, PBB, dan Kepentingan Bangsa

Merespons hal tersebut  juru bicara FPI Slamet Ma’arif menyindir balik Yusril. Ia menekankan Rizieq istikamah menjunjung tinggi hasil ijtima’ ulama pada 17 September 2018 lalu, yang mendukung pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Habib tidak haus kekuasaan. Beliau tegas dan istikamah dengan pendiriannya untuk menjunjung tinggi hasil ijtima’ ulama dan menumbangkan rezim penguasa saat ini,” kata Slamet saat dikonfirmasi, Kamis (31/1/2019).

Slamet menambahkan, pesan Rizieq tegas dalam dukungan di Pilpres 2019. Rizieq meminta jangan bermain dua kaki. Sebab bermain dua kaki disebut sebagai tanda orang munafik.

“Beliau tekankan, jangan main dua kaki dalam berjuang. Jangan munafik dalam peperangan,” ujar Slamet.

Dinamika internal PBB bergejolak. Para kader FPI yang menjadi caleg di PBB mengharamkan namanya dicoblos, karena tak rela suaranya untuk partai yang kini dipimpin Yusril. Salah satu caleg tersebut adalah Novel Chaidir Hasan Bamukmin yang merupakan caleg DPRD DKI dari Jakarta VIII.

“Benar (meminta tak dipilih) dan saya memang mengharamkan nama saya untuk dicoblos,” kata Novel.

Novel menyatakan tak rela bila ada satu suarapun yang memilihnya. Sebab, ia tak mau suara tersebut diberikan pada partai yang ternyata berada di barisan yang berseberangan dengan calon presiden yang didukung FPI.

Terkait polemik di internal partainya, Yusril sempat memberikan pernyataan. Pakar hukum tata negara itu menegaskan, PBB merupakan partai berdaulat dan berwenang menentukan arah politiknya sendiri, tanpa intervensi organisasi apapun. Caleg PBB pun memiliki latar belakang ormas yang beragam.

Yusril pun meminta, agar caleg yang berlatarbelakang dari FPI lebih baik keluar dari partai yang dinakhodainya.

“Karena itu, lebih baik seluruh anggota FPI yang menjadi anggota PBB keluar saja dari PBB. Kalau Habib Rizieq merasa mampu membentuk ‘partai perlawanan’, ya silakan saja mengubah FPI menjadi parpol,” ujar Yusril dalam keterangannya, Rabu 30 Januari 2019.

Yusril akan melihat sejauh mana Habib Rizieq mampu membuat FPI menang dalam pemilu, atau akan jadi seperti Rhoma Irama, yang partainya kandas di tengah jalan. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here