Bung Karno: Perjuangkan Api Islam Bukan Abunya

64
Presiden Soekarno (Foto: Suarajakarta.co)

Muslim Obsession – “Kini bukan masyarakat Onta, tetapi masyarakat Kapal Udara” Ir. Soekarno (1940)

Bung Karno sangat berapi-api ketika menuliskan kalimat yang penuh agitasi tersebut di Koran Pandji Islam pada tahun 1940 itu. Tulisan tersebut merupakan sikap kesal Bung Karno terhadap kalangan Islam yang memuja kejumudan dan anti terhadap kemajuan.

Bung Karno menyerukan “Islam is progress, Islam itu kemajuan” dalam artikel yang sama. Penegasan Bung Karno tersebut merupakan upaya untuk meyakinkan bahwa agama yang dibawa oleh nabi Muhammad ini adalah sebuah agama yang mempelopori sebuah kemajuan peradaban umat manusia, bukan kejumudan.

Artikel Bung Karno berjudul “Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara” yang ditulis menjelang paruh abad ke 20 tersebut mengkritik kalangan Islam yang lebih senang memungut abu Islam dari pada apinya. Istilah api Islam di sini adalah inti ajaran dan semangat kemajuan yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw dalam membangun peradaban baru yang maju di tanah Arab pada abad 7 M.

Istilah api Islam tersebut merupakan kritik Bung Karno terhadap kalangan Islam yang hanya memungut abu Islam. Abu Islam adalah kalangan Islam yang lebih mendahulukan bungkus dari pada spirit ataupun isi dari ajaran Islam, juga kalangan Islam yang memaknai Islam hanya sebatas artifisial dan simbol-simbol semata.

Bung Karno menegaskan bahwa kita saat ini hidup di zaman Kapal Udara (pesawat terbang), bukan zaman Onta. Bung Karno juga mengilustrasikan bahwa zaman ini adalah zaman ditemukannya teknologi-teknologi dan ilmu pengetahuan modern yang akan menambah kemaslahatan bagi umat manusia. Sekaligus Bung Karno memberikan ultimatum bagi kalangan Islam yang hidup di zaman kemajuan ini masih yang saja mempunyai pikiran-pikiran keislaman yang jumud dan anti kepada kemajuan zaman.

Bung Karno menulis artikel yang berisi kritik keras untuk kalangan Islam yang masih saja anti terhadap kemajuan zaman tersebut sudah 78 tahun yang lalu. Walaupun sudah berumur hampir satu abad, tulisan tersebut sampai saat ini masih sangat relevan sebagai cambuk untuk umat Islam Indonesia di abad disrupsi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here