Bung Karno di Mata Natsir

955

Berbeda tanpa Rasa Benci

Setiap orang yang membaca polemik antara saya dengan Bung Karno dapat mengambil kesimpulan, bahwa pandangan hidup maupun pandangan politik serta asas perjuangan kami amatlah berbeda. Bung Karno mendasarkan perjuangannya atas dasar kebangsaan, sementara saya atas dasar Islam. Meskipun demikian, antara kami tidak pernah ada rasa benci atau dendam.

Hal ini dapat dibuktikan antara lain dalam surat-surat Bung Karno kepada Tuan A. Hassan, yang kemudian dikenal dengan nama “Surat-surat Islam dari Ende”.

Sewaktu Bung Karno akan divonis, majalah Pembela Islam yang saya pimpin melakukan pembelaan dengan satu tulisan bapak Haji Agus Salim berjudul: “Hukum, Hakim dan Keadilan”. Sudah jadi “kebudayaan” kita di zaman itu; perbedaan faham tidak berarti permusuhan.

Sesudah Indonesia merdeka, secara resmi saya aktif dalam partai politik Masyumi. Semenjak itu saya kenal Bung Karno secara pribadi dari dekat. Apalagi sesudah saya menjadi Menteri Penerangan, hubungan saya dengan Bung Karno baik sekali.

Apabila saya berada di Yogyakarta, selalu ia mengajak saya sarapan pagi di Gedung Kepresidenan, sambil mempersiapkan pidato-pidato Presiden untuk 17 Agustus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here