Bulan Gerimis

98
Ilustrasi. Sumber foto: net.
Ilustrasi. Sumber foto: net.

Muslim Obsession – Sedikit saja muncul keraguan dalam hati Nandang, tak mungkin menembus blokade gerimis yang makin lama makin deras, menjadi sulur-sulur hujan dengan butir-butir besar yang tumpah dan rapat. Namun keraguan itu sedetik saja segera sirna, ketika Nandang membaca lagi pesan pendek itu:

Sibuk nggak? Bisa jemput Siti di depan gerbang Komplek KSB?

Nandang masih mematung di depan rumah saudaranya, di belakang Kampus Untirta. Rambut ikal dan baju Nandang sudah sedikit basah terkena cipratan hujan, saat dia memarkir motor Mionya di teras. Tanpa ragu lagi, segera Nandang membalas pesan itu:

Ok. Saya jemput pake motor ya. Kamu ga papa nanti jadi basah?

Lama tak ada jawaban dari Siti. Itu membuatnya sedikit berdebar. Memang, Siti yang mengajaknya untuk hadir dalam acara launching buku Kurnia Effendi di Untirta, selain Nandang juga sangat mengagumi cerpen-cerpen penulis yang akrab disapa ‘Kef ini.

Jas hujan dikenakannya. Dia akan berangkat setelah mendapat jawaban dari Siti. Namun sepuluh menit berlalu terasa lama sekali. Handphonnya bunyi lagi. Ada pesan dari Siti:

Dimana? Cepet dong.

Nandang segera meluncur. Menerobos tirai hujan Februari yang sejak pagi tadi tak kunjung berhenti. Jarak antara perumahan Kota Serang Baru dan Untirta memang beberapa meter saja. Hujan yang disertai angin itu membuat badan Nandang menggilil juga. Laju motor sengaja ditambah. Nandang rupanya takut membuta Siti lama menunggu.

Dari balik payung warna pink, seperti warna favoroit yang tertulis dalam biodata facebook, gadis itu berteduh di bawah pohon asem besar. Seketika sebaris senyum segar merekah dari bibir Siti yang manis.

Nandang balas senyum. Sory telat, batin Nandang.

“Duh, pasti ketinggalan nih…” Siti langsung saja naik di jok motor.

“Santai saja. Payungnya mending ditutup. Gimana?” Nandang segera menyuruh Siti untuk berteduh dibalik panjang jas hujannya.

“Haduh.. Hahaha… ngerepotin, ya?”

Nandang tersenyum. “Nggak, kok.”

Bunyi hujan yang menimpa jas plastik Nandang cukup keras terdengar, namun Nandang tidak memperdulikannya. Sepanjang perjalanan dengan jarak tempuh beberapa meter itu, Siti memang tak henti-hentinya berceloteh mengenai kekhawatirannya tertinggal mungikuti acara launching dan bedah buku “Tigaribu Kaki di Atas Bandung” karya Kurnia Effendi. Siti juga bercerita tentang teman ceweknya yang tega meninggalkannya sendirian di depan KSB, setelah mendapat jemputan sang pacar.

“Tadi nunggu lama, ya?”

“Lumayan. Ayo berangkat, ah! Udah telat nih…” rupanya Siti tidak mau membahas itu. Nandang lalu mengingatkan Siti tentang buku lama Kurnia Effendi yang akan dimintai tanda tangan.

“Iya, bawa kok.”

“Nggak usah Bang Kef sih yang nandatanganin. Sini, saya aja, hehee…”

“Haduh…. Cape deh! Lain kali aja!” Siti membuka tutup jas hujan saat sampai di depan pintu masuk gedung Auditorium. Siti menutup kepalanya dengan tas merahnya, berlari kecil menuju teras gedung. Nandang menyusul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here