Buku Moderasi Beragama Digagas untuk Seluruh Agama

643
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Foto istimewa.
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Foto istimewa.

Jakarta, Muslim Obsession – Buku Moderasi Beragama resmi diluncurkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2019).

Dilansir dari Kemenag, Lukman mengatakan, buku Moderasi Beragama tidak hanya ditujukan untuk umat beragama tertentu, melainkan bagi seluruh umat beragama, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

“Karena ketika kita hidup di tengah globalisasi. Kita tidak bisa lagi berbicara tentang konteks Indonesia semata, tapi konteks dunia. Dan tidak hanya bicara agama Islam saja melainkan seluruh agama yang ada,” kata Lukman usai peluncuran.

Dalam buku tersebut, diakui Lukman menjelaskan tentang apa Moderasi Beragama, mengapa harus memiliki cara pandang perspektif yang moderat dalam beragama, dan lalu kemudian bagaimana implementasi dari moderasi beragama.

Meski buku tersebut diperuntukkan bagi semua agama, Lukama menambahkan buku ini ditujukan khususnya kepada ASN Kementerian Agama. Lukman menilai, seluruh ASN Kemenag harus menjadi garda terdepan dalam mensosialisasikan perspektif yang moderat dalam beragama.

“Jadi bukan agamanya yang kita moderasi, tapi cara kita beragama agar senantiasa pada jalurnya yang moderat,” terang Lukman.

Selain ASN Kemenag, lanjut Menag, adalah masyarakat secara luas. Pasalnya dalam konteks Indonesia moderat dalam beragama itu juga bagian yang tidak bisa dipisahkan dari strategi kebudayaan. Sebab Indonesia adalah negara dan bangsa yang sangat majemuk, heterogen dan sangat agamis.

Beragam pandangan dan tafsir keagamaan yang ada, diakui Lukman harus senantiasa terjaga pada semangat moderasi, tidak terjerumus pada pengamalan yang berlebihan.

“Bila terjerumus, tidak hanya merusak sendi nilai-nilai keagamaan itu sendiri tapi juga merusak bangunan atau pondasi dalam hidup berbangsa dan bernegara,” tegas Lukman.

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, tafsir terhadap nilai agama diakui Lukman semakin beragam. Hal ini menuntut umat beragama, lebih rendah hati dalam menyikapi keragaman. Sebab, keragaman adalah kehendak Tuhan.

“Maka yang dituntut dari kita bukan untuk menyeragamkan semua yang berbeda tapi adalah kearifan kita untuk bagaimana keragaman itu kita dapatkan hikmah di baliknya. Buku ini sebenarnya dalam rangka mewujudkan semua itu,” pungkasnya. (Way)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here