Bolehkah Agama Dijadikan Bahan Lelucon?

493

Oleh: Dr. Iswandi Syahputra (Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Kita belum masuk pada fase menjadikan agama sebagai bahan lelucon komersial. Sebagai bahan lelucon sosial, tentu setiap kita punya pengalaman berbeda.

Saat kecil dan remaja di Medan, saya beruntung hidup di tengah masayarakat plural. Banyak teman non muslim saya. Mulai dari Kristen, Buddha, dan Hindu. Sesama kami sering bercanda menyinggung agama dengan penuh tawa ria.

Misalnya, seorang teman saya yang Kristen bertanya, ”Mengapa di mesjid tidak ada piano?” Yang paham, pasti bisa menjawabnya. Lantas, sayapun kembali bertanya, ”Mengapa di gereja tidak ada AC?” Setelah masing-masing beri jawaban, kami ketawa ngakak bersama. Itulah era di mana saya merasakan secara sosial kehidupan antar umat beragama penuh canda dan gembira.

Lalu, apakah agama bisa dijadikan bahan bercanda? Menurut saya bisa untuk dua konteks. Pertama, sebagai strategi refleksi religiusitas. Artinya, humor terkait agama harus ada konteks otokritik bagi praktek keagamaan.

Humor Gus Dur soal, ”Siapakah umat beragama yang paling dekat dengan Tuhan?” merupakan contoh refleksi satir cara kita menjalankan ajaran agama. Bagi yang tau jawabannya pasti tersenyum simpul penuh kedalaman makna religius.

Kedua, bukan untuk kepentingan/konteks komersial. Artinya agama tidak dapat dijadikan bahan humor untuk urusan komersial. Almarhum Olga salah satu penghibur yang sering bermasalah dengan hal ini. Saya sendiri dibuat pusing olehnya saat di KPI Pusat. Hingga harus membuat kultwit khusus di twitter soal ini pada tahin 2013.

Penghibur yang menjadikan agama sebagai materi hiburannya menunjukkan semacam ada ‘sentimen’ atau bahkan ‘stigma’ negatif pada keyakinan tertentu. Karena itu sebaiknya para pengais rezeki di dunia hiburan jangan sekali-kali menjadikan agama apapun sebagai materi humor atau lelucon.

Jika terpancing menjadikan agama sebagai bahan humor, ingatlah pesan pelawak legendaris Indonesia S. Bagio, ”Jadi pelawak itu susah, Mas. Kita nggak bisa sembarangan ndagel… Agama, suku, warna kulit itu BUKAN bahan lelucon.”

Bagi para pencari nafkah di dunia hiburan, selamat mencari nafkah. Jangan mencela. Mari kita rawat kebersamaan antar rakyat Indonesia.[]

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here