Boleh Marah, Tapi Tak Lebih dari 5 Menit!

124
Ilustrasi: Orang sedang marah.(Foto: mensline)

Oleh: Abdan Syakura

“Anakku, andai suatu saat kau sedang marah, marahlah! Tapi jangan pernah lebih dari lima menit. Selebihnya, berlapang dadalah dan maafkanlah”.

Penekanan kalimat ‘marah tak boleh lebih dari 5 menit’ pernah saya dengar dari seorang teman, dan itu merupakan nasihat dari bapaknya. Menurutnya, nasihat itu didengarnya berulang-ulang sejak ia kecil, setiap kali ia marah.

“Itu batas maksimal ya. Kalau bisa kurang dari itu atau bahkan tak bisa marah sama sekali,” jelasnya.

Sederhana, tapi sarat makna. Bahwa marah merupakan bagian dari sifat manusiawi, namun perlu segera dienyahkan. Kenapa? Karena marah bisa berdampak negatif bagi kesehatan fisik dan mental.

Marah yang berlebihan dan terus-menerus diketahui bisa menimbulkan beragam penyakit fisik. Ketegangan emosi mengakibatkan penyempitan pembuluh darah pada organ-organ dalam. Akibatnya, darah dialirkan dalam jumlah yang lebih besar ke otot-otot tubuh, seperti tangan dan kaki, sehingga bagian itu terasa tegang.

Namun, yang lebih serius, penyempitan pembuluh darah pada organ-organ dalam tersebut bisa menyebabkan jantung bekerja keras, berdetak lebih cepat. Akibatnya, tekanan darah meningkat.

Semua gejala ini bakal hilang apabila ketegangan emosi yang menjadi penyebabnya juga hilang. Jika suka marah-marah maupun stres tersebut berlangsung berkepanjangan, maka tekanan darah tinggi pun bisa menjadi kronik dan timbullah hipertesi (darah tinggi).

Dari hipertensi, penyakit akibat marah bisa berimbas pada kesehatan jantung, migrain dan pusing, asma, meningkatkan resiko stroke, dan masih banyak dampak negatif lainnya yang diakibatkan marah.

Selain berdampak pada kesehatan fisik, marah juga bisa merusak kesehatan mental (jiwa) yang jika dibiarkan akan menjadi penyakit hati. Ini bahkan lebih berbahaya.

Ada banyak anjuran dalam Islam terkait pentingnya mengendalikan marah. Kenapa? Karena marah merupakan senjata setan untuk merusah hati seorang manusia.

Dengan marah, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, seseorang apat dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, dan merusak tatanan persaudaraan yang diikatnya.

Islam sangat menekankan agar setiap orang untuk berhati-hati ketika emosi. Itulah mengapa terdapat banyak ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah ﷺ yang memotivasi manusia agar tidak mudah terpancing emosi.

Rasulullah ﷺ dalam sebuah haditsnya menegaskan bahwa orang yang bisa menguasai kendali atas amarahnya akan meraih kenikmatan surga.

لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الـجَنَّة

“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)

Allah subhanahu wa ta’ala menggolongkan orang-orang yang mampu mengendalikan marahnya sebagai orang yang bertakwa dan senang berbuat kebaikan (muhsinin).

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,” (QS. Ali Imran [3]: 134).

Kata وَالْكٰظِمِينَ الْغَيْظَ (dan orang-orang yang menahan amarahnya) dimaknai sebagai orang-orang yang dapat menyembunyikan kemarahan mereka dan menahannya dalam hati mereka, sehingga tidak berbuat zhalim kepada seorang pun sebab kemarahan mereka. Dikatakan (كظم غيظه) apabila ia mendiamkannya dan tidak memperlihatkannya.

Dan lebih keren lagi jika mereka masuk ke dalam kategori: وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ (orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain). Yakni tidak membalas kesalahan yang dilakukan orang lain kepada mereka padahal ia berhak untuk mendapat balasan dan mereka sebenarnya mampu untuk membalas.

Lalu, bagaimana cara agar marah bisa hilang dalam 5 menit atau bahkan kurang?

Pertama, orang yang marah hendaklah berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan membaca ta’awudz (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ) yang artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”.

Kedua, mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, berdzikir, dan istighfar. Ketiga, hendaklah ia diam, tidak mengumbar amarah dengan mengucapkan apapun. Ingat, setiap ucapan yang dikeluarkan lisan akan dicatat malaikat pencatat amal.

Keempat, jika belum juga reda marahnya, hendaklah berwudhu’. Kelima, lalu ubahlah posisi tubuh. Jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah duduk, dan apabila marah dalam keadaan duduk hendaklah berbaring.

Keenam, jauhkan hal-hal yang membawa kepada kemarahan atau pergilah dari situasi yang membuatnya marah. Ketujuh, berikan hak badan untuk beristirahat. Kedelapan, ingatlah tentang dampak buruk/negatif dari amarah. Dan kesembilan, ingatlah keutamaan orang-orang yang dapat menahan amarahnya.

Semoga hati kita senantiasa dijaga Allah Ta’ala dari segala macam penyakit hati, di antaranya marah yang tak terkendali. Aamiin.

Wallâhu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here