Bola Tanpa Pemain (Qadla dan Qadar)

562

Dalam dunia sepakbola dikenal “pemain tanpa bola”. Pasukan jangan hanya memfokuskan diri kepada pergerakan bola dan para pemain yang di sekitarnya. Yang justru tidak kalah penting untuk diwaspadai adalah para pemain yang tanpa bola, atau yang melakukan pergerakan di luar lalu lintas bola. Setiap pembawa bola justru selalu berpikir tentang teman-temannya yang tanpa bola berlari ke suatu posisi untuk siap-siap mengakselerasi bergulirnya bola menuju gawang lawan.

Di luar itu ternyata permainan bola, lapangan bola serta apapun saja yang terkait dengan itu – adalah bagian dari kehidupan yang jauh lebih luas dan multidimensional dibanding batas-batas urusan teknis bola. Ternyata tidak hanya ada “pemain tanpa bola”, tapi mengerikan juga ada “bola tanpa pemain”. Artinya, bola bisa bergerak ke luar wilayah yang dirancang dan dimaksudkan oleh pemain bola. Seakan-akan ada pemain lain yang tidak kelihatan, yang menggagalkan permainan pemain yang kelihatan.

Anak-anak kita U-19 berlatih sepakbola dipandu coach Indra Sjafri – tentu demikian juga kesebelasan-kesebelasan lainnya – tidak hanya sebagai pesepakbola, tapi juga dengan kesadaran sebagai bangsa Indonesia, sebagai manusia dan sebagai hamba Tuhan. Mereka membiasakan diri bersujud syukur dalam posisi apapun, serta pada keadaan menang atau kalah. Kemudian sewajarnya, bahkan selayaknya – karena sudah melakukan segala yang terbaik – kepada Tuhan mereka memohon kemenangan.

Dan Allah memberkati kesehatan dan stamina mereka, meridlai skill dan permainan canggih mereka, sehingga pada pertandingan menentukan melawan Thailand itu mereka sungguh-sungguh menguasai permainan, mengurung lawan. Tetapi Allah juga merahmati kiper Thailand sehingga bermain seakan-akan dibantu oleh beberapa Malaikat yang turut menjaga gawang kewajibannya.

Dua kali pernah saya alami kebuntuan seperti yang dialami anak-anak saya Kesebelasan U-19 di Myanmar tempo hari. Bedanya tingkat dan skala mereka ASEAN, sedangkan yang saya alami adalah sepakbola Tarkam, Antar-kampung.

Kami kuasai sepertiga lapangan di depan gawang lawan sepanjang permainan hingga Maghrib hampir menjelang. Kami menang skill, strategi, kematangan kerjasama maupun ketangguhan tubuh. Puluhan kali shooting kami lakukan tetapi selalu digagalkan oleh kiper “pulut” lawan, dimelencengkan oleh desakan udara mendadak, atau posisi kaki kami ketika menendang bola sudutnya digeser 1-2 derajat sehingga arah bola melenceng 1-2 meter.

Seperti ada invisible ball keeper, atau ada jala rahasia, jaring nir-kasyaf di depan gawang lawang. Atau “Dukun” mereka kuat. Kami tidak pernah bawa Dukun. Hanya selalu berusaha menang undian awal untuk menentukan posisi bagian kiri atau kanan di lapangan, melalui koin yang dilempar dan kami harus memilih Angka atau “Beri” (Garuda). Itu memuluskan rancangan strategi kami. Tetapi kali ini rasanya lawan kami tidak hanya 11 pemain. Seperti ada bon-bonan gaib, entah Jin entah Demit, atau Aji Lembu Sekilan yang membuat bola mental balik sebelum mencapai sasaran.

Atau malah mungkin ini adalah Qadar: Allah tidak memperkenankan kami menang kali ini demi pertimbangan jangka agak panjang, yang menyangkut psikologi kami serta posisi Kesebelasan desa kami dalam konstelasi Tarkam. Padahal secara Qadla kami sudah ditulis lebih unggul di lembar kesekian Kitab Lauhul Mahfudh.

1
2
3
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here