Bola Tanpa Pemain (Qadla dan Qadar)

528

Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cendekiawan Muslim/Budayawan)

Kalau tangan kananmu memberi, selalu diusahakan jangan sampai ketahuan oleh tangan kiri. Akibatnya tangan kiri sering uring-uringan kepada tangan kanan: “Kenapa kamu tidak pernah bersedekah?”

Pada koordinat dilema itulah Tuhan meletakkan manusia dalam kehidupan. Kalau manusia menunjukkan perannya, bisa terbentur tembok “riya”. Kalau manusia menyembunyikan perannya, manusia bisa di-sampah-kan oleh sesamanya. Buku sejarah bukan hanya tidak mencatatnya, lebih dari itu malah bisa mengutuknya.

Kalau manusia berdoa memohon ini itu, Allah bisa berposisi defensif: “Fabi ayyi ala`i Robbikuma tukadzdziban”. Nikmat Tuhan yang mana yang kau dustakan wahai Jin dan Manusia. Tapi kalau manusia pasrah bongkokan, terserah-serah Tuhan mau kasih apa atau tak kasih apa-apa, Allah melambaikan tangan: “Ud’uni Astajib lakum”. Memohonlah kepada-Ku, niscaya Kujawab dan Kukabulkan.

Bergaul dengan Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang saja memerlukan kecerdasan, kepekaan dan kejelian menghitung posisi dan momentum. Apalagi berinteraksi dengan sesama manusia yang penuh keterbatasan tetapi mudah menyimpulkan, yang penuh kelemahan tapi sombong, yang penuh kekurangan tapi cenderung mengagumi diri sendiri.

Kalau batang hidung Anda tidak tampak di antara tujuh juta manusia gelombang 212, Anda bisa disimpulkan sebagai Munafik, tidak punya sikap, atau minimal dikategorikan sebagai jenis manusia “yang hanya bicara-bicara saja, tetapi tidak berani berjuang di medan perang”.

Agar Anda tidak dicatat sebagai “sampah yang tidak berguna”: Anda harus mengumumkan bahwa Anda yang mengolah perubahan tempat Jum’atan dari Jl. Thamrin Sudirman ke Monas, demi simulasi “yurisprudensi”, supaya tidak membuka peluang di masa berikutnya bagi kemungkinan-kemungkinan kemudharatan politik.

Jika ada pertempuran, pasukan yang dicatat oleh sejarah hanya pasukan Infanteri. Plus sedikit Kavaleri dan Altileri. Tetapi pasukan Bayangan, pasukan Siluman, termasuk pasukan Pengintai dan divisi Gerilyawan – tidak diketahui oleh siapapun. Dan kalau Anda adalah bagian dari itu, Anda ditegur oleh teman-teman: “Kok kamu tidak ikut berjuang?”

Ketika berlangsung keramaian di mana sebuah Masjid baru yang besar dan megah diresmikan, yang dihadiri oleh para pejabat tinggi, para Ulama dan tokoh-tokoh masyarakat – ada seorang tua yang tidak diizinkan masuk, hanya berdiri di balik pagar luar lingkungan Masjid. Ia berdesakan dengan ratusan hadirin lain di luar pagar. Hanya Allah dan satu dua pihak lain yang tahu bahwa orang itulah pewakaf tanah yang didirikan Masjid itu, dan ia pulalah yang membiayai seluruh keperluan pembangunannya.

1
2
3
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here