BJ Habibie: Kinerjanya Dihujat, Setelah Tiada Dipuja

707

Habibie Dicemooh oleh Kaum Radikal dan Intoleran

HABIBIE  telah berubah dari seorang ilmuwan yang seolah tidak peduli dengan dunia sekitar, menjadi pemimpin organisasi yang berani melakukan langkah-langkah berisiko tinggi.

Ketika KPU ragu untuk mengesahkan hasil Pemilu 1999, Presiden Habibie tidak ragu membubuhkan tandatangannya mengesahkan hasil Pemilu 1999 yang dimenangkan oleh PDI Perjuangan.

Presiden yang sempat diragukan kemampuannya itu, dalam masa kurang dari  dua tahun mampu menurunkan kurs rupiah dari Rp 16 – Rp 17 ribu perdolar, menjadi Rp 6.500/dolar. Antrean panjang rakyat untuk memperoleh sembako, berhasil dihentikan.

Menteri Pangan dan Holtikultura Kabinet Habibie, A.M. Saefuddin bercerita dalam masa jabatannya yang singkat itu,  dia tidak pernah pulang sebelum tengah malam. “Setiap pukul 23, Presiden Habibie selalu menelepon mengecek ketersediaan sembako,” ujar Saefuddin yang kini menjadi Ketua Pembina Dewan Da’wah.

Dalam masa jabatannya yang singkat, Habibie berhasil membentuk berbagai undang-undang yang kelak menjadi landasan bagi pelaksanaan reformasi.

Habibie yang ramah, juga seorang yang tegas. Selama masa kepemimpinannya, dia menegaskan semua pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) hanya boleh dilakukan di gedung DPR. Dan memang, selama Habibie menjadi Presiden, tidak ada satupun panitia khusus atau panitia kerja yang bersidang di  hotel mewah. Jangankan di hotel mewah, di hotel kelas melati pun tidak ada. Semuanya diselesaikan di gedung parlemen!

Habibie yang pekerja keras dan berprestasi itulah yang oleh lawan-lawan politiknya dianggap potensial memenangkan pemilihan presiden.

Oleh karena itu, berbagai upaya menjegal Habibie dilakukan. Mulai isu Habibie  berkewarganegaraan ganda, sampai cara-cara kasar yang tidak terhormat di ruang sidang paripurna MPR.

Pagi itu, 1 Oktober 1999, sebagai kepala negara Presiden Habibie datang ke MPR untuk menghadiri upacara pelantikan anggota DPR/MPR periode 1999-2004. Di luar dugaan, kedatangan Presiden yang sah itu disambut dengan teriakan mencemooh “huuu…,” oleh sebagian anggota DPR/MPR. Sebagian “anggota yang terhormat” itu menolak berdiri saat Presiden Habibie memasuki ruangan sidang.

Merespon sikap radikal dan intoleran sebagian “anggota yang terhormat” itu, Presiden Habibie tersenyum dengan mata bulatnya yang berpendar disertai lambaian tangan persahabatan.

Insiden 1 Oktober 1999 yang digerakkan oleh kaum radikal dan intoleran itu dinilai anggota parlemen A.M. Fatwa sebagai sikap yang memalukan. Fatwa langsung mengajukan interupsi kepada Pimpinan Sementara Majelis, Suyitno Hardjosudiro. “Pimpinan Sidang, saya minta anggota Majelis yang berteriak ‘huuu’ agar dikoreksi, karena tidak baik tindakan seperti itu dilakukan terhadap kepala negara. Ini bukan gedung bioskop. Ini sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat yang terhormat.”

“Memang harus demikian sesuai dengan koreksi Saudara,” jawab Suyitno.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here