Biografi Mohammad Natsir Harus Jadi Bacaan Wajib Kader Parmusi

301

Jakarta, Muslim Obsession – Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP Parmusi) menggelar diskusi bedah buku Biografi Mohammad Natsir, Kepribadian, Pemikiran dan Perjuangan yang ditulis oleh Dewan Pakar Parmusi di Kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (6/2/2020).

Ketua Umum Parmusi Usamah Hisyam mengatakan, ia sejatinya sudah mengenal Mohammad Natsir sejak kecil di era tahun 70an. Saat itu bahkan, Natsir kerap menginap di rumah salah satu kakeknya di Surabaya, ketika berkunjung ke sana. Kebetulan kakek Usamah adalah tokoh Masyumi.

“Pak Natsir itu sahabat kakek saya. Dulu kalau beliau ke Jatim, Surabaya itu nginepnya di rumah kakek saya, karena orang-orang dulu itu benar-benar berjuang nginepnya tidak di hotel tapi di rumah-rumah,” ujar Usamah dalam sambutan pengantarnya.

Saat kecil Usamah sudah mengetahui sedikit tentang kebesaran pemikiran Nastir. Belakangan ia menjadi lebih kenal dengan sosok kepribadian, pemikiran, dan perjuangan Natsir saat dia menjadi Ketua Umum Parmusi. Bagi dia, Natsir adalah seorang pemikir, negarawan yang punya komitmen tinggi terhadap keislaman dan keindonesiaan.

“Jadi saya intruksikan agar buku Parmusi ini dibagikan kepada pengurus PW Parmusi, agar ruh perjuangan kita itu ada tujuannya. Kita bisa benar-benar melanjutkan perjuangan dari pemikiran Natsir,” tuturnya.

Ruh perjuangan itu adalah, bagaimana Islam itu bisa berkembang maju di Indonesia buka hanya secara kuantitas tapi juga kualitas. Untuk itu, bukan hanya para pengurus PW, ia juga mengintruksikan agar buku Pemikiran Natsir itu menjadi buku bacaan wajib kader Parmusi di seluruh daerah. Karena di buku itu memuat ruh perjuangan Natsir dalam berdakwah.

“Saya intruksikan buku pemikiran Natsir adalah buku resmi yang wajib dibaca oleh kader Parmusi. Kader Parmusu harus baca buku itu agar memahami ruh gerakan dakwah Islam,” tandasnya.

Menurutnya, Parmusi saat ini dengan gerakan dakwahnya melalui pembentukan Desa Madani sejatinya sudah mewarisi pemikiran Natsir. Hanya saja kemasannya yang berbeda. Namun semangatnya tetap sama menyangkut keislaman dalam keindonesia. Di mana Islam harus mewarnai kultur budaya Indonesia.

“Semakin Islam semakin Indonesia. Kader Parmusi harus bisa mewarisi pemikiran Natsir dalam semangat memperjuangkan dakwah Islamiyah,” jelasnya.

Natsir memang tidak bisa dipisahkan dengan Parmusi. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia. Masyumi ini yang kemudian melahirkan Parmusi saat itu adalah Partai Muslimin Indonesia. Namun kini Parmusi sudah menjadi Ormas, buka lagi sebagai partai.

Dalam bedah buku itu, menghadirkan pembicara yang mumpuni dibidangnya, yakni Prof. Dr. Laode Kamaluddin, Lukman Hakiem, Dr. Fachry Ali, Dr. Mohammad Noer, dan moderator Irgan Chairul Mahfiz yang juga menjadi politisi senior PPP. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here