Bersyukur atas Nikmat dan Istiqamah Jauhi Hubbul Maal

113

Oleh: Buya Mas’oed Abidin Jabbar (Ulama Sumatra Barat)

Meminta kepada selain Allah atau menjadi hamba benda (hubbul maal) adalah watak yang tidak pantas dimiliki oleh manusia yang berakal. Keberadaan manusia di alam ini hanya tersebab “rahmat” dan “rahim” dari Allah Azza Jalla. Karena itu manusia dengan kesungguhan hati bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang ada pada diri dan alam sekeliling kita.

Penghambaan kepada materi, pasti mendatangkan bencana. Benda dan alam hanyalah rahmat Allah untuk mencapai kemakmuran dan bukanlah tujuan hidup. Amatlah salah bila manusia rela diperbudak materi sehingga jatuh menjadi hubbul maal (budak materi) atau hubbud-dun-ya (budak dunia). Bermacam bencana akan menimpa manusia di arena “perebutan materi” itu.

Firman Allah menyatakan; “Dan ingatlah tatkala TuhanMu mempermaklumkan, Sesungguh nya jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmatku kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmatKu, maka sesungguhnya adzabKu sangatlah pedih,” (QS. Ibrahim: 7).

Baca juga: Kokohkan Tali Silaturrahim

Itulah sebabnya bila mampu mensyukuri nikmat yang Allah berikan maka kian hari nikmat itu kian bertambah dan akan membawa ketenangan di hati.

NIKMAT TIDAK HANYA MATERI. Nikmat Allah juga dalam bentuk, nikmat iman, nikmat sehat, nikmat keberkahan, nikmat kebahagiaan yang kita rasakan bahkan sakit, ujian, cobaan dan penderitaan juga disebut sebagai nikmat.

Kemampuan untuk bersyukur atas semua nikmat inilah Allah memberikan rasa ridha kepada diri kita.

Ridha adalah kemampuan menerima apapun yang Allah berikan kepada kita. Dalam kondisi senang dan susah, sedih dan bahagia, tawa dan air mata, amat berarti dalam hidup karena semuanya itu datang dari Allah. Inilah yang disebut dengan keajaiban bersyukur. Dalam keadaan apapun kita merasakan kedamaian hati, kita senantiasa menyadari hidup dan mati kita hanyalah untuk Allah semata.

Kenalilah Allah ketika dalam keadaan senang, niscaya Dia mengenalimu ketika dalam keadaan susah.” (HR. Ahmad).

Baca juga: Ingatlah Hubungan Doa, Ikhtiar dan Takdir

Alam yang mencakup bumi, langit dan seisinya itu adalah anugerah Allah yang ditundukkan kepada manusia untuk dijadikan objek sasaran tugas sang Khalifah. Sehingga secara bertahap dengan kerja jasmani dan kecerdasan akal manusia, peradaban akan semakin meningkat dan maju dalam menyejahterakan umat manusia.

Nasihat Ahli Hikmah:

1. Siapa yang ingin menjadi kaya, hendaknya ia selalu senang dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, baik berupa harta benda, maupun yang lainnya.

2. Siapa yang ingin pandai dalam urusan agamanya, maka hendaknya mau menerima kebenaran dari Allah yang disampaikan oleh siapapun datangnya

3. Siapa yang ingin menjadi yang bijak, hendaknya dia menjadi orang berilmu.

4. Siapa yang ingin aman dari gangguan manusia, maka hendaknya dia berusaha tidak membuka aib orang lain.

5. Siapa yang ingin dapat kemuliaan di dunia dan akhirat, maka hendaknya utamakan urusan akhirat di atas kepentingan duniawi.

6. Siapa yang ingin memperoleh surga di dunia dan surga di akhirat, maka hendaknya dia banyak memberi, karena yang banyak memberi itu dekat dengan surga dan jauh dari neraka.

7. Tidak akan bisa berkumpul antara iman dan bakhil (kikir) di hati seorang mukmin selamanya. Adakah penyakit yang lebih berbahaya daripada bakhil? – (HR. Bukhari Muslim).

8. Siapa yang menjadikan dunia tujuan hidupnya, maka Allah akan menjadikan dirinya sibuk dengan dunianya, sedangkan dunia akan menghampirinya sebatas yang telah ditentukan untuknya jua. Tidak lebih.

9. Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan memudahkan semua urusannya, menjadikan hatinya kaya, dan dunia akan mendatanginya dengan mudah.

10. Siapa yang menyangka bahwa ia punya penolong lebih kuat dari Allah, berarti ia belum mengenal Allah dengan baik.

11. Siapa yang mengira dirinya punya musuh yang lebih berbahaya dari dorongan nafsunya, berarti ia belum mengenal dirinya dengan baik.

12. Jadilah orang yang paling baik di sisi Allah. Jadilah orang yang paling berkekurangan dalam pandangan dirimu. Jadilah manusia biasa di hadapan orang lain. “Sesempurna Iman seorang adalah yang paling baik akhlaknya”. (HR.Tirmidzi).

Agar peradaban membawa kepada kemaslahatan dan menyejahterakan umat maka bimbingan agama menjadi penyempurna rahmat Allah bagi manusia. Maka, kewajiban setiap diri memelihara jasmani dengan menjaga kesehatannya.

Akal mesti dikembangkan dengan ilmu pengetahuan. Agama wajib dilaksanakan dalam realitas kehidupan. Perintah Allah dengan Al-Quran mesti diyakini sebagai pedoman hidup yang paripurna.

 اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَالعَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَدُنْيَاناَ وَأَهْلِيْنَا وَأَمْوَالِنَا، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَاب النَّارِ

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here