Bersin dan Ucapkan ‘Hamdalah’ dalam Shalat, Bolehkah?

245
shalat
Ilustrasi Shalat Berjamaah (Photo: The Conversation)

Muslim Obsession – Ketika sedang shalat, seorang mushalli (orang yang melaksanakan shalat) dilarang untuk mengucapkan apapun kecuali hal yang berkaitan dengan shalat seperti bacaan Al-Quran, dzikir, begitu pula doa-doa.

Terdapat syarat yang ketat, yakni bacaan-bacaan tersebut harus menggunakan bahasa Arab. Jika diucapkan selain bahasa Arab, maka membatalkan shalat.

Lalu, bagaimana jika seorang mushalli kemudian bersin dan secara refleks dia ucapkan ‘Alhamdulillah’? Apakah dapat membatalkan shalat?

Secara umum, di antara adab bersin adalah membaca ‘hamdalah’ setelahnya. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Jika salah satu di antara kalian bersin, hendaknya membaca ‘Alhamdulillâh’. Saudara atau temannya (yang mendengar) hendaknya membaca ‘Yarhamukallâh’. Kemudian apabila orang yang bersin tadi mendengar jawaban ‘Yarhamukallâh’, maka hendaknya ia kembali mendoakan dengan doa ‘Yahdîkumullâh, wa yushlihu bâlakum’,” (HR. Bukhari).

Membaca ‘hamdalah’ adalah dzikir yang disunnahkan, sehingga mengucapkannya setelah bersin tidak membatalkan shalat sebab dzikir tidak membatalkan shalat.

Hal ini diterangkan dalam hadits dari Rifâ’ah bin Râfi’ az-Zuraqi radhiyallahu anhu, ia berkata: “Saya telah shalat di belakang Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan saya bersin, maka saya mengucapkan : الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى (Segala puji bagi Allâh , pujian yang banyak, baik dan diberkahi, sebagaimana dicintai dan diridhai-Nya).

Maka ketika Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau keluar dan bertanya, ‘Siapa yang berbicara dalam shalat?’ Tidak ada seorangpun menjawab. Untuk kali kedua, beliau bertanya, ‘Siapa yang berbicara dalam shalat?’ Tidak ada seorangpun menjawab.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi untuk kali ketiga, ‘Siapa yang berbicara dalam shalat?’ Kali ini saya menjawab, ‘Saya wahai Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apa yang tadi kau ucapkan?’ Saya menjawab: الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Demi Allâh yang jiwaku di tangan-Nya, lebih dari tiga puluh malaikat berebut untuk membawanya ke atas’,” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa`i, dihukumi hasan oleh al-Albani).

Tak perlu dijawab

Kendati dibolehkan, namun ketika shalat berjamaah sebaiknya tidak mengucapkan ‘hamdalah’ dengan keras. Tujuannya agar tidak dijawab ‘yarhamukallah’ oleh orang lain, karena ucapan seperti ini membatalkan shalat.

Mu’âwiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Saya shalat bersama Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ada seseorang yang bersin, maka saya mengatakan ‘Yarhamukallâh’. Orang-orang pun memandang ke saya. Saya mengatakan, ‘Aduh, mengapa kalian memandang ke saya?’

Mereka kemudian memukulkan tangan mereka ke paha, maka saya paham bahwa mereka ingin saya diam, dan saya pun diam. Setelah Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, beliau memanggil saya. Sungguh, –ayah ibu saya adalah tebusan beliau- saya tidak pernah melihat guru yang lebih baik dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengajar.

Beliau tidak mengumpat, tidak memaki atau tidak membentak. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Dalam shalat ini tidak boleh ada perbincangan manusia. Shalat adalah takbîr, tasbîh, membaca Al-Quran dan tahmîd’,” (HR. Muslim).

Mengucapkan ‘hamdalah’ dibolehkan karena ini merupakan dzikir untuk memuji Allâh subhanahu wa ta’ala, sementara ‘yarhamukallâh’ dilarang karena merupakan perbincangan sesama manusia.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here