Berproses, Belajar Agama Tak Bisa Instan!

296
Penghafal Al-Quran
Ilustrasi: Para santri tengah belajar di sebuah pondok pesantren di Ujung Kulon, Banten. (foto: Anto/Muslim Obsession)

Muslim Obsession – Proses dalam hidup tak ada yang instan, semua berproses. Pun demikian dengan menuntut ilmu, apalagi belajar ilmu agama yang memerlukan ketelitian dengan sanad yang benar agar tak salah dalam mengaplikasikannya.

Demikian pesan yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, KH. Zainuddin Djazuli, kepada para santri dan umat Islam secara umum. Pesan Kiai Zainuddin menampar masyarakat saat ini yang marak belajar agama secara instan, terutama melalui dunia maya atau internet.

“Nah, sekarang coba kiai mana yang instan-instan kaya begitu, apa ada? Apa ada kiai mondok cuma seminggu? ‘Kan tidak ada,” ungkap Kiai Zianuddin, seperti ditulis @nahdlatululama lewan akun Instagramnya, Sabtu (22/2/2020).

Beliau kemudian bercerita bagaimana Kiai Djazuli, ayahnya, menuntut ilmu dan berproses menjadi seorang ulama.

“Abah saya dulu pertama mondok di Gondang Legi, di sana khatam kitab Ajjurrumiyah. Terus pindah ke Mojosari, di sana 7 tahun, terus lanjut ke Makkah selama 3,5 tahun. Waktu di Makkah beliau di kasih kitab Dalailul Khairat oleh Habibullah Asy-Syintiqiti, sambil diberi pesan agar nanti kalau mencarinya, carilah di tempat ini,” kisah Kiai Zainuddin.

“Ternyata ketika dicari malah menemukan kabar bahwa Habibullah Asy-Syintiqiti sudah meninggal 200 tahun yang lalu. Kalau mau ke Madinah, semua kitab disimpan rapi, hanya kitab Dalail yang dibawa, beliau jalan kaki dari Makkah ke Madinah selama satu bulan,” sambungnya.

“Santri sekarang apa ada yang sampai tirakat seperti itu. Dulu jalannya masih padang pasir, tiap kali berhenti istirahat di dalam pasir, hanya kelihatan wajahnya saja di permukaan. Seperti itu riyadhah Abah saya. Di Madinah ditangkap oleh Belanda lalu dipulangkan ke Indonesia hanya memakai kaos dan celana serta hanya membawa kitab Dalail. Setelah itu Abah masih mondok lagi di Termas setengah tahun.”

“Yaa.. bisa dilihat barakahnya, bisa bangun pondok Al-Falah seperti ini. Sekarang kalau cari yang instan gak ada, yang instan namanya martabak dan mie,” pungkas beliau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here