Berperang Melawan Wabah Global

282

Oleh: Ilham Ibrahim

Sebenarnya telah lama manusia berperang melawan wabah global. Pada abad ke-14 wabah yang bernama The Black Death membunuh jutaan orang dari Asia Timur sampai Eropa Barat dalam kurun satu dekade. Di abad ke-16, epidemi cacar yang dibawa orang-orang Spanyol membunuh sepertiga populasi Amerika Tengah. Kepulauan Hawai yang terisolasi dari belahan benua Asia Timur, Eropa Barat, dan Amerika Tengah, baru mendapati tuberkulosis dan sepilis pada abad ke-18 yang dibawa penjelajah Inggris dan menewaskan sebagian besar populasinya.

Pada abad awal abad ke-20, ketika transportasi jauh lebih baik dan jaringan dagang antar wilayah semakin efisien, jutaan orang di India, Argentina, Kongo, Samoa dan lainnya mati akibat wabah “flu spanyol”. Sedangkan pada abad ke-21, populasi manusia sesungguhnya jauh lebih rawan akibat wabah ketimbang abad-abad sebelumnya. Mobilitas manusia “zaman now” yang begitu tinggi sangat berperan membawa serta kuman-kuman mungil yang dapat meresahkan seantero bumi.

Karena itu, sebetulnya sekarang ini kita hidup di neraka pandemiologis karena populasi yang terus tumbuh dan karakter virus yang kian banal serta lincah. Walau transportasi balistik memungkinkan kita dapat menyantap sarapan di Washington DC dan makan malam di Teheran. Namun sebagai gantinya, saat virus berkembang biak di sudut terpencil kota Wuhan, dalam kurun dua purnama, dapat menggetarkan penduduk di sudut paling asing negara Guetemala.

Virus corona dipandang sebagai pandemik terburuk setidaknya dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Ratusan ribu dari belahan dunia telah meninggal akibat virus yang berasal dari pasar perdagangan hewan liar. Kehebatan virus ini dibanding wabah lainnya karena berkembang biak sebagai bentuk kehidupan parasit yang aneh dan tak terlihat serta dapat menular dengan begitu cepat. Bayangkan saja betapa mengerikannya pandemi ini: hanya dengan berjabat tangan dengan seorang kawan yang terkena positif virus ini, dapat menjadi semacam seremoni perpisahan untuk selama-lamanya.

Namun meskipun virus corona menjadi penumpang gelap dalam mobilitas tubuh manusia, kita sesungguhnya berada dalam posisi yang lebih baik. Kita tahu bahwa virus dari generasi ke generasi terus tumbuh dengan karakter yang jauh lebih tangkas. Namun kita percaya bahwa para dokter jauh lebih tangkas lagi. Dalam sejarah, manusia telah memenangkan perang melawan wabah karena dalam perlombaan senjata antara virus dan dokter, virus mengandalkan mutasi buta sementara dokter mengandalkan analisis informasi ilmiah, sehingga dokter dapat berlari lebih kencang.

Tahun demi tahun para dokter mengakumulasi pengetahuan tentang bagaimana dunia mikroorganisme ini bekerja. Bayangkan jika virus corona hadir di tahun 1270. Dalam semua kemungkinan, tak ada seorang pun yang tahu apa penyebab virus itu muncul, bagaimana virus itu menular ke orang lain, dan mungkin tak ada seorang pun yang tahu bagaimana cara mengatasinya. Kalau sekiranya corona hadir lebih awal, kemungkinan Dante Alighieri akan mengalami demam tinggi saat menulis syair-syair dalam Divine Comedy dan akan memaksa Ibnu Khaldun untuk terus mencuci tangan selepas menyusun kitab Muqaddimah.

Karenanya, seawam-awamnya saya, tentu tak akan sembarang percaya dengan bualan seorang pendakwah akhir zaman yang mengatakan virus corona buatan illuminati untuk mewujudkan Tatanan Dunia Baru. Saya juga tidak terlalu yakin kalau virus ini jelmaan tentara Allah untuk membasmi ras tertentu karena telah mendzalimi suatu kaum. Narasi-narasi paranoia rasis jelas bermain di sini. Pikiran mereka hanya berputar tentang bagaimana cara mengkarantina orang Cina.

Sebab demikian, porsi burhani penting untuk lebih dikedepankan dalam menjawab tantangan virus corona ini. Dukungan kita untuk orang-orang yang sedang bertarung di garis paling depan melawan wabah ini begitu penting. Bukan hanya mendukung, orang awam macam saya, harus lebih memercayai arahan para ilmuwan yang memang sedang fokus mengkaji ini, daripada yang lain, sekalipun pengamat dajjal dan pakar akhir zaman.

Manusia cenderung lebih mudah membayangkan akhir dari dunia daripada membayangkan akhir dari wabah global. Di masa depan akan terus terjadi tsunami-tsunami wabah seperti corona. Bayangkan saja dalam dua dekade terakhir ini pikiran kita berkali-kali dicemaskan dengan ledakan wabah baru. Tahun 2002 virus SARS, tahun 2003 wabah flu burung, tahun 2009 flu babi, dan tahun 2014 epidemi ebola. Berkat dunia kedoteran sekarang, jumlah korban secara komparatif lebih rendah dibanding wabah The Black Death yang mengamuk di abad 14.

Meskipun dunia kedokteran modern dapat mengatasi gelombang-gelombang virus tersebut, namun mereka sepertinya tak mudah menyerah. Mereka akan terus memperbaharui diri sehingga kemungkinan akan terus lebih rutin dan rutin lagi menghantui manusia. Hal tersebut karena kombinasi populasi yang terus bertambah, mobilitas manusia yang semakin fleksibel, kuman-kuman yang semakin nakal, dan dunia kedokteran yang semakin maju. Kombinasi ini kemungkinan akan terus memakan korban dengan jumlah yang kecil namun dengan rutinitas kedatangan wabah yang lebih tinggi.

Karenanya mari kita mulai memikirkan kemungkinan virus baru berikutnya. Tidak, ini tidak terlalu dini, meskipun pandemi corona masih pada tahap awal. Selama pandemi SARS pada 2002-2003, menurut Jared Diamond, walau pun telah dijinakkan, tapi sebagian besar dunia kedokteran gagal mengantisipasi kemungkinan virus berikutnya. Dan sekarang kita semua harus membayar harganya dengan kedatangan corona yang begitu gesit.

Ini dapat menjadi kesempatan bagi dokter-dokter Muhammadiyah untuk mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan akan munculnya wabah baru. Ketika di masa depan corona berhasil dihentikan, tak ada yang bisa menjamin bahwa kerabat tak dikenal dari wabah ini sedang mengintai kita di satu sudut. Tetapi ada alasan yang bagus untuk berpikir bahwa Muhammadiyah memiliki puluhan rumah sakit dan dokter-dokter canggih, sehingga dapat memiliki kesempatan tampil agar permukaan dunia tahu tentang arti pentingnya Islam berkejamuan bagi semesta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here