Berpenduduk Muslim Terbesar, Menag Ingin Indonesia Jadi Barometer Keagamaan Dunia

53
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: kemenag)

Jakarta, Muslim Obsession – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan Indonesia sebagai barometer keagamaan dunia.

Menurutnya, untuk menjadi barometer keagamaan dunia, maka mewujudkan moderasi beragama menjadi jalan yang harus ditempuh. Selama ini, menurut Menag, Indonesia juga dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

BACA JUGA:

Menag: Problem Bangsa Ini Tidak Bisa Diselesaikan oleh NU atau Muhammadiyah Saja

Kutuk Aksi Bom, Menag Yaqut: Itu Perbuatan Keji!

Menag Ajak Pemuda Muhammadiyah Kolaborasi dalam Dakwah Keumatan dan Kebangsaan

“Indonesia ini penduduk muslimnya terbesar di dunia. Jadi logis jika parameter Islam di dunia diarahkan ke Indonesia. Islam yang sangat toleran dan menghargai perbedaan. Kita ingin Indonesia sebagai parameter keagamaan dunia,” ungkap Menag dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama 2021, di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (5/4/2021).

Rakernas Kemenag 2021 yang mengangkat tema Percepatan Transformasi Layanan Publik ini digelar secara luring dan daring, mulai Senin-Rabu (5-7 April 2021). Rakernas diikuti 705 jajaran Kemenag, Pejabat Eselon I Pusat hingga Kepala Kankemenag Kota/Kabupaten.

Menag mengungkapkan, untuk mengukur kinerja ASN Kemenag dalam menjaga kehidupan keberagamaan di Indonesia, pihaknya akan menyusun indeks keagamaan sebagai penilaian atas perilaku keagamaan di tengah masyarakat.

“Jadi kita akan tahu sejauh mana kinerja kita dalam tahun ini sampai 2024 nanti dari indeks yang akan kita siapkan ini, salah satu tujuannya adalah untuk memberikan penilaian atas apa yang kita lakukan, dan respon masyarakat terhadap apa yang sudah kita lakukan,” tutupnya.

Pada kesempatan itu, Menag juga sempat menyinggung perihal kasus pengeboman yang terjadi di Makassar. Menurutnya, hal itu terjadi karena adanya kesalahan pemahaman cara beragama yang menyebabkan munculnya perilaku ekstrem semacam itu.

“Kalau kemarin ada kasus pengeboman, karena mereka salah memandang cara berislam,” tuturnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here