Bergeraklah! Karena Al-Harakah Barakah

100

Oleh: Drs. H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ الْمَاءِ يُفْسِدُهُ # إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبْ

“Sesungguhnya aku melihat genangan air yang diam itu merusak dirinya sendiri. Jika air itu mengalir maka ia menjadi jernih namun ketika berhenti mengalir maka hilanglah kejernihannya,” (Al-Imām Asy-Syāfi’i).

Kapal laut dan pesawat terbang sama-sama terbuat dari besi. Keduanya membuat orang awam –termasuk saya­– merasa kagum.

Kapal laut yang terbuat dari besi, dengan lautan manusia di dalamnya, ditambah beban berwujud ratusan mobil dan sepeda motor, mampu terapung dengan baik di atas air.

Pesawat terbang yang juga terbuat dari besi, beratnya tentu sampai berton-ton, jauh lebih dahsyat. Dengan banyak penumpang dan beban bagasi, mampu terbang-melayang di udara bebas sana.

Untuk kapal laut, secara sederhana saya bisa menjelaskannya. Sesuai dengan yang pernah saya pelajari di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dulu.

“Setiap benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sebanding dengan masa jenis benda itu,” bunyi hukumnya.

Kapal laut (dengan) berdasarkan logika ilmiah itu, sangat logis bisa terapung di lautan yang sangat luas. Sementara untuk pesawat, beberapa kali saya membaca tulisan tentangnya, tetap belum puas dan mampu melogikakannya.

Terlepas bagaimana sebenarnya logika-mekanis dua alat transportasi temuan manusia tersebut, keduanya tidak lepas dari campur tangan Ilahi.

Bahwa manusia dengan bimbingan Allah selalu belajar dari alam sekitar, dari kehidupan, dari laju-gerak semesta, untuk menciptakan wasilah yang mempermudah hidupnya.

Konon, helikopter itu munculnya terinspirasi dari capung. Lahirnya kapal selam, boleh jadi, bermula dari pembacaan manusia terhadap gerak-lincah ikan di sungai dan lautan.

Kapal laut dan pesawat terbang boleh dikatakan sebagai temuan besar kehidupan. Keduanya ada melalui proses penemuan, proses perancangan, dan proses penyempurnaan yang –saya yakin– panjang.

Andaikata keduanya ditemukan pada percobaan yang ke-1000 (seribu), apa jadinya jika yang mengusahakannya berhenti pada percobaan yang ke-999? Kapal laut dan pesawat terbang hanya menjadi angan-angan belaka, dan tidak nyata dalam semesta.

Berbicara tentang keduanya, akan menarik ketika ditilik dari perbedaan “harga”. Contoh, untuk pergi ke Malaysia kita bisa memilih untuk menggunakan kapal laut atau pesawat terbang. Tetapi pilihan tersebut tentu berkaitan dengan harga tadi, ketersediaan uang si empunya.

Sudah ma’lūm bahwa tiket pesawat terbang lebih mahal dibanding kapal laut. Mengapa? Sebab –salah satunya­–, pesawat terbang mampu menghantarkan penumpang jauh lebih cepat dibanding apa yang dilakukan kapal laut.

Hal ini dapat dibaca bahwa sesuatu yang berasal dari komposisi yang sama (besi, dalam hal ini) menjadi berbeda nilai atau harganya karena kecepatan geraknya. Mana yang lebih cepat maka dia yang menjadi lebih berharga.

Sama halnya dengan kuda pacuan. Dengan postur yang sama, warna, dan berat yang sama pula, tetap berbeda harganya jika salah satunya memiliki kecepatan lari yang lebih. Sebab, kuda yang larinya cepat tentu sudah melalui proses latihan dan makanannya pun tidak main-main.

Begitulah kapal laut dan pesawat terbang serta kuda mengajari manusia. Bahwa dalam hidup ini manusia harus berpacu untuk bergerak dalam kebaikan demi finish secara mulia di sisi Tuhannya.

Siapa yang ingin bergerak cepat maka dia harus berlatih lebih giat. Bagi yang ingin melampaui yang lain maka dia harus melakukan percepatan (seolah “terbang”) sebagaimana yang tidak dilakukan yang lain. Dan pergerakan itu memang harus dilakukan secara berkesinambungan. Ringkasnya, berhenti berarti mati.

Saya pribadi sering membuat analogi. Motor apapun itu, kecuali motor matic, saat pertama kali akan melaju harus pakai “gigi” (gear) satu. Baru setelah berjalan normal, gear mulai ditambah, sampai maksimal.

Mengapa harus pakai “satu” untuk kali pertama? Sebab, memulai itu berat. Dan ketika sudah berjalan menjadi ringan baru menggunakan gear 2, 3, dan 4.

Mari awali pagi dengan bekerja walaupun berat kita bergerak juga perlahan-lahan.

Wallahu a’lam bish Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here