Berawal dari Khawatir, Bupati Karawang Lolos dari Covid-19

402
Bupati Karawang, dr. Cellica Nurrachadiana. (Foto: portaljabar)

Muslim Obsession – Tidak selamanya kekhawatiran itu berbuah negatif. Khawatir yang disertai kewaspadaan justru dapat membuat seseorang lebih bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang dikhawatirkannya.

“Saya benar-benar melakukan proteksi diri. Saat itu saya berpikir terburuk kalau saya positif (terjangkit virus Corona), dan menjaga diri saya agar tidak menularkan pada orang lain. Ketika itu memang fifty-fifty, ada positive thinking juga kekhawatiran,” ujar Bupati Karawang, dr. Cellica Nurrachadiana, membuka perbincangan dengan Elly Simanjuntak dalam Talk with Elly yang tayang, Sabtu (2/5/2020).

Kekhawatiran Teh Celli, demikian biasa perempuan berjilbab ini disapa, berawal ketika ia mendengan kabar adanya sejumlah pejabat daerah yang positif terjangkit virus Corona. Seperti dirinya, para pejabat yang positif itu sama-sama mengikuti Musda HIPMI. (Baca juga: Menginspirasi! Bima Arya Blak-blakan Cerita Lolos dari Maut Usai Positif Corona)

Perempuan kelahiran Bandung, 18 Juli 1980 ini pun lalu langsung melakukan pemeriksaan Swab. Sambil menunggu hasil Swab keluar, Teh Celli yang curiga dan khawatir, langsung melakukan proteksi diri. Salah satunya, ia selalu memakai masker dua lapis.

“Sebenarnya saya sudah merasakan gejala yang saya kira itu bukan gejala virus. Badan saya ngilu mulai dari pinggang, punggung, pundak, sampai kepala. Saya belum pernah merasakan ngilu seperti itu. Cuma memang ‘saru’ karena tak lama kemudian saya haid. Dikira karena mau haid jadi pegal badannya,” ujarnya.

Setelah keluar hasil Swab yang menyatakan dirinya positif, Teh Celli berinisiatif untuk mengisolasi diri di rumah sakit. Kenapa di rumah sakit? Teh Celli menghindar interaksi dengan keluarga yang memungkinkan terjadinya penularan virus. Selain itu Teh Celli merasa lebih nyaman mengisolasi diri di rumah sakit karena diyakininya akan mendapatkan perawatan yang lebih baik.

“Di rumah sakit mendapatkan penanganan covid pada umumnya, seperti diberikan antibiotik, antivirus, dan vitamin. Kalau ada demam diberi obat demam dan kalau batuk diberi obat batuk. Dan yang pasti saya dicek darah dan thorax. Di rumah sakit kan minimal ada fasilitas pendukung kesehatannya dan diperiksa secara berkala,” kata Teh Celli.

Kebiasaan lain yang dilakukannya agar segera pulih dari Corona adalah mengkonsumsi buah-buahan supaya imunnya tetap baik. Dan yang terpenting, menurutnya, adalah selalu memiliki pikiran yang positif.

“Makanya saya tidak mau baca berita, saya gak mau lihat berita di televisi. Saya lebih memilih untuk makan yang suka dan bergizi,” ungkapnya. (Baca juga: Melly Goeslaw Sebut Ramadhan Tahun Ini yang Terbaik dalam Hidupnya. Kenapa?)

Kepada Elly, Teh Celli mengaku kagum pada tenaga medis di rumah sakit. Ia mengapresiasi semua orang yang terlibat dala penanganan Covid-19 dengan ikhlas dan tanpa lelah.

“Hebatnya, mereka itu siap untuk beresiko terpapar. Oleh karenanya kami dari Pemkab harus menjamin keselamatan para tenaga kesehatan, baik medis maupun nonmedis. Karena meskipun bagian cleaning service, mereka tetap berinterkasi dengan pasien,” tuturnya.

Oleh karenanya, Teh Celli mengatakan pihaknya melakukan sejumlah langkah di antaranya: Pertama menjamin ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) hingga 2-3 bulan ke depan. Kedua, secara berkala setiap 7-14 hari melakukan rapid test kepada tenaga kesehatan untuk menjamin kesehatan mereka.

Ketiga, memberikan privilege terkait makanan, vitamin, dan insentif. Keempat, para perawat diberikan kebijakan, dalam satu bulan mereka bekerja 15 hari dan disediakan penginapan, sementara 15 hari lainnya berkumpul dengan keluarga. Sebelum pulang ke rumah, para perawat dilakukan rapid test terlebih dahulu dan diberikan surat yang menerangkan bahwa mereka negatif.

Kebijakan ini, sambungnya, dilakukan agar tenaga-tenaga kesehatan memiliki imun yang baik, pikiran positif, dan tidak terlalu kelelahan. Karena pada umumnya, menurut Teh Celli, selain karena kehendak Allah, para tenaga kesehatan itu meninggal karena kelelahan fisik dan pikiran sehingga imun turun.

“Jadi mereka harus cukup tidur, cukup makan, dan mereka diberikan pelindung diri yang benar-benar bisa saya pertanggungjawabkan untuk keselamatan mereka,” tandasnya.

Ikuti perbincangan lengkap dr. Cellica Nurrachadiana di Talk with Elly dalam tayangan berikut ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here