Bentrok Muslim-Budha, Sri Lanka Umumkan Status Darurat

704
Pasukan Khusus Sri Lanka dan petugas Polisi berjaga di dekat sebuah rumah yang terbakar setelah bentrokan antara dua komunitas di Digana, distrik pusat Kandy. (Photo: Reuters)

Colombo, Muslim Obsession – Sri Lanka mengumumkan status darurat selama 10 hari pasca bentrokan antara umat mayoritas Buddha Sinhala dan minoritas Muslim pecah di pusat distrik Kandy.

Juru bicara pemerintah Sri Lanka, Dayasiri Jayasekara, mengatakan status darurat ditetapkan guna mengendalikan situasi dan kekerasan komunal yang mulai meluas.

“Dalam rapat khusus kabinet telah diputuskan untuk mendeklarasikan status darurat selama 10 hari demi mencegah penyebaran kekerasan komunal ke wilayah lainnya,” tutur Jayasekara, seperti dikutip Reuters, Rabu (7/3/2018).

Bentrokan komunal pecah setelah sekelompok warga Buddha dilaporkan membakar toko kelontong milik seorang warga Muslim di wilayah tersebut.

Tentara-tentara Sri Lanka berjaga di dekat sebuah rumah terbakar setelah terjadi bentrokan antara dua komunitas di Digana, distrik pusat Kandy. (Photo: Reuters)

Ketegangan antara masyarakat Buddha dan Muslim terus meningkat di negara Asia Selatan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Umat Buddha garis keras menuding Muslim di sana memaksa orang-orang memeluk agama Islam atau merusak situs arkeologi Buddha.

Sejak krisis kemanusiaan di Myanmar memburuk Agustus 2017 lalu, banyak umat Buddha Sri Lanka memprotes kedatangan pengungsi Muslim Rohingya di negaranya.

Selain menetapkan status darurat, Jayasekara menegaskan, pemerintah akan menindak tegas seluruh pihak yang mencoba memperkeruh keadaan, terutama melalui media sosial.

Hal itu disampaikan usai beberapa pihak dilaporkan mencoba menghasut warga untuk memicu kericuhan melalui Facebook.

“Rapat darurat juga memutuskan, pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap orang-orang yang memicu kekerasan melalui media sosial seperti Facebook,” ujar Jayasekara.

Dia mengatakan pemerintah juga telah mengirim personel militer dan pasukan khusus ke pusat bentrokan di Kandy. Aparat setempat juga dilaporkan memberlakukan jam malam untuk mengantisipasi bentrokan kembali terjadi.

Kerusuhan dan pembakaran toko di distrik Kandy bermula pada Ahad (4/3/2018) waktu setempat, setelah seorang sopir truk, yang merupakan umat Buddha Sinhala, meninggal beberapa hari usai bertengkar dengan empat warga Muslim di sana.

Bentrokan pecah pada Senin (5/3/2018) waktu setempat, tak lama setelah pemakaman sang sopir selesai. Polisi menyebut sekelompok umat Buddha menyerang dan membakar toko-toko milik umat Muslim di distrik tersebut. Jenazah seorang warga ditemukan dalam salah satu toko yang terbakar tersebut.

Umat Muslim hanya berpopulasi sekitar 9 persen dari total 21 juta penduduk Sri Lanka. Sementara jumlah umat Buddha di sana mencapai 70 persen dan 13 persen lainnya merupakan umat Hindu. (Vina)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here