Benarkah Mimpi Bisa Diatur?

36
Tidur Miring
Tidur ala Rasulullah Saw. membawa manfaat yang sangat baik untuk kesehatan. (Foto: ilustrasi)

Muslim Obsession – Mungkin ini kabar gembira bagi orang yang sering bermimpi buruk dan ingin mengubahnya menjadi mimpi indah.

Sejumlah peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) tengah merancang perangkat Dormio untuk mengeksplorasi cara-cara demi meningkatkan kreativitas seseorang melalui pemanfaatan tahap tidur hypnagogia semi-lucid.

Dormio diterangkan sebagai perangkat yang memungkinkan orang untuk mengontrol konten mimpi mereka.

Sistem ini bekerja dengan melacak keadaan transisi melalui biosignals, seperti denyut jantung dan tonus otot dengan menggunakan alat yang dikenakan tangan.

Pemakainya akan meninggalkan hypnagogia dan bertransisi ke tidur nyenyak. Sementara alat berupa robot ditaruh tak jauh dari tempat tidur sebagai pemicu dengan mengeluarkan suara untuk mendorong mereka ke kondisi mimpi.

Misalnya suara yang digunakan untuk membangunkan orang itu adalah sebuah kata, maka suara itu dapat memasuki mimpi pemakai Dormio.

Contohnya, jika robot mengatakan ‘garpu’ atau ‘kelinci’, mimpi itu akan menggabungkan objek-objek ini. Namun sayangnya, tidak dijelaskan kapan alat tersebut akan diperkenalkan kepada publik.

Sebenarnya, tanpa alat tersebut, seseorang bisa saja mengendalikan mimpi yang dialaminya asalkan dia dalam kondisi lucid dream, yakni saat seseorang sadar bahwa dia sedang bermimpi.

Istilah lucid berasal dari bahasa Latin lux, artinya cahaya dan mimpi. Dalam bahasa Indonesia lucid dream bisa diartikan sebagai mimpi yang jelas/mimpi cerah/mimpi terang.

Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan psikolog dan ilmuwan mimpi asal Belanda, Frederick Van Eeden.

Pada tahun 1913, dia menerbitkan jurnal “A Study of Dreams” pada komunitas ilmuwan psikolog mengenai lucid dream yang merekam 352 lucid dream yang dialaminya pada tahun 1898 dan 1912.

Dalam hal ini ada beberapa level lucidity. Ketika semakin tinggi tingkat lucidity-nya, maka meningkat pula proyeksi kemunculan objek dan sejenisnya.

Artinya, ketika kita mencapai tingkat lucidity paling tinggi, maka kehidupan di mimpi hampir 80% persis dengan kehidupan nyata.

Sementara itu, psikolog Inggris dari University of Lincoln menemukan fakta bahwa orang yang mengalami lucid dream umumnya memiliki kemampuan memecahkan masalah yang lebih baik.

Karena terkait dengan kemampuan menyadari antara batas mimpi dan realita. Menurut ketua studi Dr Patrick Bourke, pengajar di School of Psychology di Lincoln, seseorang dapat dikatakan mengalami Lucid Dream, apabila dia mampu melihat dan mengingat sebagian besar kejadian yang terjadi di alam mimpi dan menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi.

Kemampuan inilah yang kemudian mempengaruhi kemampuan berpikir mereka saat terjaga.

Lebih lanjut Dr. Patrick Bourke menyebutkan bahwa dalam studi yang dipublikasikan di American Psychological Associaton ini menganalisa tipe-tipe mimpi dari 68 orang yang berusia antara 18-25 tahun.

Mereka mengukur kemampuan kognitif partisipan dengan sebuah tes. Hasilnya, partisipan yang mengalami lucid dream mampu menjawab soal 24% lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang belum pernah mengalaminya.

Orang yang mengalami lucid dream memiliki kemampuan untuk menyadari hal-hal inkonsisten yang menunjukkan bahwa yang dialami itu tidaklah nyata.

Kemampuan itulah yang melatih otak untuk terbiasa menganalisis dan menyadari ketidakkonsistenan yang terjadi di kehidupan nyata.

Hal ini dipercaya meningkatkan kualitas kecerdasan kognitif dan kemampuan memecahkan masalah.

Meski hampir semua orang mengaku pernah mengalami lucid dream setidaknya sekali dalam hidupnya, namun hanya 20% di antara mereka yang rutin sekali setiap bulan atau lebih.

Quotes: Mereka mengukur kemampuan kognitif partisipan dengan sebuah tes. Hasilnya, partisipan yang mengalami lucid dream mampu menjawab soal 24% lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang belum pernah mengalaminya. (Sahrudi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here