Belajarlah Kepada Padi

5640

Oleh: Dzun Nurayn (Penikmat Hikmah)

Para orangtua kita sering memberikan nasihat, contohlah tanaman padi yang semakin berisi semakin merunduk. Nasihat atau petuah orangtua tersebut dipahami banyak orang sebagai rumus agar kita memiliki sikap tawadlu. Sebuah sikap dan perilaku yang sangat dianjurkan untuk menangkis sikap dan perilaku takabbur.

Sekadar memperkaya catatan kita, padi yang dalam bahasa latinnya adalah Oryza sativa L. merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.

Mungkin sudah beratus-ratus tahun lamanya tanaman padi menjadi contoh klasik yang selalu diberikan para leluhur sehingga sampai kepada kita. Dan jika diperhatikan lebih dalam, sejatinya, kita akan menemukan banyak penjelasan lain mengapa kita mesti mencontoh padi. Nah, dalam kesempatan ini mari kita coba memetakan hal-hal apa saja yang menjadi sifat utama padi, sehingga kita dapat mengambil hikmah di dalamnya.

 

Kian Berisi Kian Merunduk

Merunduknya padi merupakan analogi sikap rendah hati yang menyikapi segala sesuatu dengan kepasrahan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Saat dirinya berlimpah kesenangan dan kenikmatan, maka ia akan bersyukur dan mengatakan bahwa itu semua merupakan keutamaan yang datangnya dari Allah Azza wa Jalla (haadza min fadhli robbi). Sebaliknya, ketika ia ditimpa beragam masalah, maka ia akan berpasrah diri dengan bersabar dan mengucapkan bahwa semua kejadian berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya (inna lillahi wa inna ilaihi roji’un). Semua itu ia sikapi dengan rendah hati tanpa ada sikap sombong dan merendahkan orang lain.

Tawadlu adalah sikap rendah hati, tidak sombong, serta tidak memandang orang lain lebih rendah dibandingkan dirinya. Orang tawadlu selalu meletakkan hatinya berdasarkan kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla, sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk merendahkan orang lain. Ia sadar betul jika dirinya merendahkan orang lain, maka sejatinya ia telah merendahkan Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan orang yang direndahkannya itu.

Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Karena kerendahan hati menunjukkan sikap tawadlu, sementara rendah diri bersifat negatif yang menunjukkan kelemahan jiwa seseorang. Sosok rendah hati tidak akan mau diinjak-injak orang lain, meski ia sendiri akan selalu menghormati siapapun. Ia akan bereaksi positif terhadap orang-orang yang menginjak-injaknya tanpa sekalipun merendahkannya. Namun orang yang rendah diri tidak akan mampu bangkit dan terus terpuruk saat ia diinjak-injak orang lain.

Salah satu ciri orang tawadlu adalah ia selalu bersikap rendah hati di hadapan orang lain dan mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang merendahkannya. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan,” (QS. Al-Furqan [25]: 63).

Seseorang yang memiliki sikap tawadlu akan tampil sebagai sosok yang dimuliakan Allah dan dimuliakan pula oleh orang-orang di sekelilingnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda: “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadlu kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat izzah) oleh Allah,” (HR. Muslim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here