Belajar Pengorbanan Cinta dari Salman Al-Farisi

518
Cinta Salman Al-Farisi yang bertepuk sebelah tangan

Muslim Obsession – Bagaimanakah perasaan kita, ketika seseorang yang kita cintai, menikahi orang lain bahkan sahabat kita sendiri? Tahukah anda, kisah seperti itu sudah terjadi lebih dari 1000 tahun lalu!

Inilah kisah sahabat Rasulullah, Salman Al-Farisi yang mengorbankan cinta untuk sahabatnya Abu Darda’.

Kisah itu dimulai saat Salman Al-Farisi sudah memasuki usia yang cukup untuk menikah. Ternyata, ada seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita shalihah, telah memikat hati Salman.

Tapi bagaimana pun, Madinah bukanlah tempat ia tumbuh dewasa. Ia berpikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi urusan pelik bagi seorang pendatang seperti Salman. Maka, disampaikanlah gejolak hati itu kepada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

“Subhanallah, Walhamdulillah,” senang hati Abu Darda’ mendengarnya. Setelah persiapan lamaran selesai, beriringanlah kedua sahabat itu menuju rumah wanita shalihah yang dimaksud. Abu Darda’ ketika itu menjadi perantara pinangan sahabatnya Salman Al-Farisi.

“Saya Abu Darda’ dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam. Ia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Salman memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah. Sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”

Dibalaslah oleh orangtua wanita shalihah tersebut, “Adalah kehormatan bagi kami menerima Anda sahabat Rasulullah yang mulia. Dan suatu penghargaan bagi kami  bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Akhirnya, Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

“Maafkan kami atas keterusterangan ini,” tutur sang ibu dengan berat hati kepada kedua sahabat Rasul itu.

“Dengan mengharap Ridha Allah, saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar prediksi. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Hal Ironis sekaligus indah. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati.

Bayangkan sebentuk malu yang membuncah lalu bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimana pun Salman memang belum memiliki hak apapun atas orang yang dicintainya. Tapi mari kita dengar apa yang dikatakan Salman.

“Allahu Akbar! Semua mahar yang aku persiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Betapa Salman Al-Farisi menunjukkan kita sebuah kebesaran hati. Ia juga sangat paham makna persahabatan sejati. Apalagi, Rasulullah Saw. membuat ikatan persaudaraan antara Salman dan Abud-Darda’.

Maka benar sabda Rasulullah Saw, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari)

Wallahu A’lam bish Shawab

(Vina – Disadur dari Buku “Jalan Cinta Para Pejuang” karya Salim A. Fillah) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here