Bekal Terbaik dan Merindu Husnul Khatimah

173
Ilustrasi: Prosesi pemakaman. (Foto: istimewa)

Oleh: Abdan Syakura

Tanah merah perlahan diseret menutupi liang lahat. Ketika hampir membentuk gundukan, nisan kayu dipancangkan. Nama Mulyati binti Ribut jelas tertulis di bawah tulisan arab “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”.

Janda anak satu kelahiran 30 tahun silam itu tidur berbaring miring mencium tanah. Ia akan kembali dibangunkan, entah kapan.

Jelang waktu Zhuhur, suasana pemakaman Mulyati diselimuti hening. Hanya suara pacul menggasruk tanah bersahutan dengan tangisan yang tertahan. Sekitar tiga puluhan orang lainnya memilih diam, menunggu para penggali makam selesai menguruk “kapling” makam.

Mang Endut juga diam. Sesekali matanya melirik kiri-kanan, memperhatikan makam-makam lain yang saling bersebelahan.

“Ini dia makam Lamsijan,” gumam Mang Endut, ketika matanya beradu dengan sebuah makam yang tampak masih baru.

BACA JUGA: Mang Endut Pengin Langsing (Bagian 1)

Lamsijan bin Pulung, baru meninggal kurang dari sepekan. Seperti almarhumin kebanyakan saat ini, Lamsijan berpulang usai terpapar wabah viral, Covid-19. Tapi Mulyati tak seperti Lamsijan. Mul, meninggal setelah berjuang lebih dari dua tahun melawan kanker payudara.

Mata Mang Endut lurus memandang makam Lamsijan. Ada yang aneh, pikirnya. Di dekat nisan kayu ada potongan tebu yang ditancapkan. Begitu juga di sisi lainnya.

Mang Endut yang tak hadir saat pemakaman Lamsijan, tentu tak tahu soal potongan tebu tersebut. “Mungkin ada asbabul wurud kenapa ada tebu itu,” pikirnya, sambil matanya mengamati dan otaknya terus menerka-nerka apa alasan ditancapkannya potongan tebu itu.

“Itu wasiat Lamsijan,” sergah Halim, memotong terkaan yang berputar di otak Mang Endut.

“Entah apa maksudnya, Lamsijan berwasiat sebelum meninggal. Ia bilang, ingin ada potongan tebu yang ditancapkan di atas makamnya. Mungkin tebu itu kesukaan Lamsijan, atau biar makamnya terlihat berbeda. Entahlah,” sambung Halim.

BACA JUGA: Suerrr.. Akang Belum Ikhlas, Nyai!

Halim mengatakan, selain tebu, Lamsijan juga berwasiat agar ia dimakamkan di tempat pemakaman umum milik warga. Apapun kondisinya, sekalipun ia berstatus pasien Covid-19, Lamsijan bersikeras dimakamkan di tempat yang diinginkannya.

Lamsijan, teman kongkow Mang Endut di Tajug Al-Barokah, meninggal enam hari lalu. Tepatnya, ia meninggal Ahad pagi sekitar pukul 06.00. Kepulangannya diumumkan marbot tajug lewat speaker yang mencorong ke empat penjuru mata angin: barat, timur, utara, dan selatan.

Prosesi pemakaman Lamsijan sangat cepat. Karena meninggal saat terpapar positif Covid-19, proses pengurusan jenazah Lamsijan dilakukan dengan protokol khusus. Seluruh prosesinya tertutup dan dilakukan pihak rumah sakit. Dimandikan, dikafani, dishalatkan, hingga dimasukkan ke liang lahat berikut peti matinya pun dilakukan oleh tenaga berbalut hazmat.

Tak boleh ada keluarga yang mendekat. Hanya saat dimakamkan, Leni sang istri berdiri dari kejauhan melihat prosesi pemakaman dengan derai air mata. Leni ditemani Arip, anak semata wayang mereka. Keduanya berdiri diapit Mak Irah dan Nyi Atun, bibi dan sepupu Leni.

*****

Kurang dari empat jam setelah marbot tajug mengumumkan meninggalnya Lamsijan, speaker tajug kembali menjerit. Mang Muslih, marbot tajug, kembali mengumumkan seorang warga yang meninggal dunia. Kali ini marbot tajug menyebut nama Apud bin Karnyoto.

Seperti Lamsijan, Apud juga teman kongkow Mang Endut di tajug. Pun sama-sama terkonfirmasi positif Covid-19, meninggal di rumah sakit. Apud yang berbadan gemuk memiliki komorbid, diabetes dan penyakit jantung akut.

Jenazah Apud tak dibawa pulang ke rumah. Dari rumah sakit langsung dibawa ke pemakaman khusus dengan prosesi yang sama seperti Lamsijan. Hanya “tak seberuntung” Lamsijan, Apud tidak dimakamkan di TPU milik warga. Ia dikirim “pulang” di tempat khusus bersama “teman-teman barunya” sepenanggungan Covid-19.

BACA JUGA: Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 1)

“Satu persatu teman-teman jamaah kita berpulang,” kata Ustadz Akrom, saat bertemu Mang Endut usai shalat Subuh.

“Tapi, dari setiap peristiwa pasti ada hikmah di baliknya. Begitu juga dengan wafatnya Lamsijan dan Apud,” sambungnya.

Wasiat yang dilayangkan Lamsijan kepada keluarga, merupakan bentuk kasih-sayang Allah yang membuka tabir kematian kepadanya. Lamsijan memiliki persiapan sebelum ajal menjemputnya.

“Wasiat itu, meski kita tak pernah tahu apa maksud potongan tebu, namun menjadi tanda bahwa Lamsijan bisa menerobos tabir kematiannya. Semoga Lamsijan min ahlil khair,” ungkap Ustadz Akrom.

Begitu juga Apud, lanjutnya.

Dua bulan sebelum sakit dan kepulangannya ke hadirat Allah Ta’ala, Apud terlihat sangat menikmati ibadahnya. Apud selalu berada di barisan pertama shalat berjamaah, senang berlama-lama saat berdzikir, bahkan selalu paling terakhir meninggalkan tempat duduknya.

BACA JUGA: Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 2)

“Apud juga ringan tangan. Dari Ramadhan ke Ramadhan, Apud selalu terlibat aktif. Ramadhan kemarin juga begitu, kan? Apud jadi Bilal shalat Tarawih, mengkoordinir tadarus Al-Quran dan bakti sosial anak-anak yatim. Insya Allah Apud min ahlil khair,” ungkap Ustadz Akrom.

Kesaksian Ustadz Akrom terhadap Apud, sejatinya adalah kesaksian Mang Endut dan jamaah Tajug Al-Barokah lainnya. Mereka sama-sama menyaksikan, sama-sama merasa kehilangan. Baik Apud maupun Lamsijan, dua aktivis tajug yang sama-sama ringan tangan dan rajin shalat berjamaah, meninggalkan kesan yang begitu dalam.

*****

Makam Mulyati binti Ribut selesai diuruk. Tanah merah menggunduk sempurna, tersebar di sepanjang makam. Papan nisan tertancap kuat dengan nama yang tertulis jelas. Di sisi lainnya, sebatang bambu menjadi penanda.

Warna-warni bunga yang dironce menghiasi makam. Ada tujuh ronce bunga yang terdiri dari bunga-bunga berbau wangi. Makin indah setelah bunga-bunga lainnya ditaburkan berurutan dengan air mawar dari tiga botol yang disiramkan pihak keluarga.

“Kematian Mul adalah nasihat untuk kita semua,” ujar Ustadz Akrom membuka taushiyahnya.

“Bahwa setiap yang bernyawa pasti akan berpulang menghadap Allah. Kematian adalah keniscayaan bagi semua makhluk yang hidup, oleh karenanya kematian tidak boleh ditakuti tetapi juga tidak perlu diminta dan dicari,” urainya.

BACA JUGA: Kisah Jantuk Mencari Tuhan (Bagian 3)

Yang terpenting untuk menyambut dan menemui kematian, jelasnya, adalah mempersiakan diri dengan bekal sebaik-baiknya. Bekal terbaik bukanlah harta yang banyak, bukan pula jabatan yang tinggi. Tidak juga popularitas dan jaringan perkenalan yang luas.

“Tak satupun harta yang dibawa, tak seorangpun keluarga yang menyertai. Tak ada guna jabatan dan status sosial. Kita menghadap-Nya dengan bekal takwa dan amal shalih, karena itulah sebaik-baiknya bekal,” terangnya.

Setiap orang tak satupun mengerti akan kematiannya, kecuali bagi kekasih-kekasih Allah yang diberikan kabar tentangnya. Dan umumnya, tak satupun yang memahami jelas di mana ia akan mati, kapan ia mati, dan dalam keadaan apa ia mati. Itulah misteri kematian.

“Oleh karenanya, kita hanya bisa berikhtiar untuk menyiapkan bekal terbaik seraya terus berdoa agar Allah Ta’ala memberikan karunia husnul khatimah,” tutupnya.

Sejurus kemudian, Ustadz Akrom mengajak orang-orang yang hadir untuk berdoa.

Selamat berpulang Mul, Lamsijan, dan Apud. Semoga kematian kalian dalam husnul khatimah dengan rahmat dan maghfirah Allah yang tercurah. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here