Begini Nasib Getir Anak Muda Suriah

583
ACT turunkan tim medis untuk korban Suriah (Photo: ACT)

Reyhanli, Muslim Obsession – Awal pekan ini, Tim SOS for Syria XIV Aksi Cepat Tanggap (ACT), menyambangi dua klinik medis di titik batas Hatay dan Idlib.

Mereka merangkum cerita tentang berbagai nasib getir anak muda Suriah yang menjadi korban konflik. Luka permanen di tubuh mereka menyisakan rasa sakit mendalam. Sakit yang tak akan usai, sakit dan trauma yang tak bisa dianggap baik-baik saja.

Kursi roda, tongkat penyangga, atau kaki palsu menjadi kawan sepanjang hari. Provinsi Hatay, titik perbatasan antara Suriah dan Turki, mengurai beragam kisah nasib getir pengungsi yang belum usai.

Menjadi pengungsi korban perang dan pelarian dalam kondisi terluka parah adalah nasib yang mereka jalani. Bertahun-tahun rasa sakit ditahan, tanpa pernah tahu kapan ujian rasa sakit ini akan berakhir.

Ja’far, seorang lelaki muda usia tak lebih dari 27 tahun, hanya bisa terbaring tanpa daya. Ia membuka selimutnya, terlihat besi panjang yang menyangga kakinya.

“Saya sedang berjalan kaki di Homs. Roket dari langit jatuh di depan muka. Saya lari ke rumah sakit. Keluar dari rumah sakit, bom sekali lagi meledak tepat di atas kaki. Tulang engkel saya patah. Tulang kaki remuk. Kejadian itu dua tahun lalu,” kisah Ja’far, seperti dikutip dari laman ACT, Rabu (28/2/2018).

Lain lagi dengan seorang lelaki lain yang usianya lebih muda dari Ja’far, yaitu Ahmed. Tulang belakang pria asal Idlib ini remuk.

“Saya dilindas tank ketika sedang berjalan kaki. Alhamdulillah, Allah selamatkan nyawa saya,” ungkap Ahmed.

Sementara Abdul Halim (23), selimut tebal menutup setengah badannya. Halim mengizinkan kami untuk melihat kondisinya dan mengabadikan gambarnya. Sebelum perang datang, ia adalah seorang mahasiswa sekaligus guru.

“Kaki saya diamputasi karena kala itu di Idlib, bom meledak tepat di depan kaki.”

Kami lantas menuju ke ruang sebelah dan bertemu dengan Ibrahim. Tubuhnya tampak sehat, namun rupanya Allah Swt. sedang menguji Ibrahim dengan kelumpuhan permanen dan rasa sakit yang luar biasa.

Ibrahim berkisah, roket meledak di belakang tubuhnya. Tulang belakangnya hancur 13 ruas. Syarafnya pun tak lagi bisa normal.

“Setiap menit, saya selalu merasakan sakit tidak terkira di punggung. Semua di klinik ini sudah hafal dengan teriakan saya menahan sakit kalau rasa itu datang,” ujarnya.

Masih banyak lagi cerita dari anak muda Suriah yang terbaring di ranjang klinik, tepat di perbatasan Suriah dan Turki ini. Luka bakar karena bom, kelumpuhan syaraf, difabel, patah tulang kaki dan tangan, atau peluru yang sempat bersemayam di kepala mereka.

Sudah hampir tujuh tahun sejak pertama kali perang Suriah berdebum pada 2011 silam. Tapi, cerita tentang anak-anak muda Suriah yang bertahan dalam luka permanen tak akan pernah berakhir. Di titik perbatasan Suriah dan Turki ini, masih ada ribuan lagi anak muda Suriah yang terenggut masa depannya karena konflik.

Padahal mereka adalah ayah, kakak, paman, atau tulang punggung keluarga. Padahal, di dalam memori mereka menyimpan ayat-ayat Al-Quran sepanjang 30 juz utuh.

“Ya, banyak anak muda di klinik ini hafidz Al-Quran. Allah sedang menguji mereka dengan rasa sakit,” ucap seorang mitra ACT. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here