Banyak Negara Berlomba Tarik Wisatawan Muslim

363
Fahira Idris
Fahira Idris

Jakarta, Muslim Obsession – Persaingan wisata halal terjadi di beberapa sektor pengembang di berbagai negara, seperti Thailand, Jepang, Korea Selatan, Eropa, Rusia, dan Indonesia. Semua negara tersebut berlomba menarik hati wisatawan muslim dunia dengan menyediakan fasilitas pendukung.

Anggota DPD RI, Fahira Idris, mengatakan potensi wisata halal terus menggeliat seiring tumbuhnya nilai transaksi pasar wisata muslim. Berdasarkan perkiraan Global Muslim Travel Index (GMTI), nilai transaksi wisata Muslim bisa mencapai 220 miliar dolar AS pada 2020.

“Fasilitas pendukung yang diterapkan beberapa Negara dalam mengembangkan wisata halal di tingkat dunia yaitu seperti mempersiapkan hotel, kuliner, tempat ibadah, dan lainnya yang sesuai prinsip sekaligus kenyamanan para Muslim,” ungkap Fahira Idris di Jakarta, Senin (4/3/2019).

Menurutnya, destinasi wisata halal dalam pengembangan fasilitas dan peningkatan layanan di berbagai destinasi wisata bagi wisatawan Muslim, agar lebih nyaman saat berlibur. Katanya, yang lebih di focuskan kepada wisatawan muslim terdapat pada makanan halal.

“Biasanya wisatawan muslim paling susah mencari makanan halal di luar negeri. Nah dengan adanya pengembangan fasilitas wisata muslim yang terus di genjot pemerintah, akan membuat para wisatawan lebih tenang dan nyaman dalam berlibur,” terangnya.

Selain itu, ia mengungkapkan, dengan adanya pengembangan fasilitas untuk menerapkan wisata halal bukan berarti menghilangkan keunikan budaya yang dimiliki setiap Negara.

“Tokyo misalnya, walau mengembangkan wisata halal, namun tetap menjadi Tokyo yang menonjolkan keunikan budayanya. Bangkok pun akan tetap jadi Bangkok dengan keeksotisan budayanya, dan Bali tetap akan menjadi Bali dengan berbagai kekayaan dan keindahan atraksi budaya serta kearifan lokalnya yang sudah sangat terkenal di dunia,” katanya.

Menurut Fahira, wacana atau diskursus wisata halal, yang sebenarnya bukan hal baru dan bahkan sudah dipraktikkan oleh negara-negara dengan penduduk muslim minoritas. Maka sebaiknya, lanjut dia, dilihat dari ikhtiar dan upaya menjadikan pariwisata benar-benar menjadi andalan dan tulang punggung perekonomian bangsa. Pasalnya, industri pariwisata paling tahan terhadap ancaman gelombang krisis.

“Jadi jangan dipersepsikan atau dibenturkan dengan budaya setempat. Alasannya, wisata halal ini merupakan salah satu cara pengembangan wisata untuk menangkap peluang dan memajukan industri pariwisata,” tuturnya. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here