Banyak Hikmah, Ramadhan adalah Menahan Diri Siang dan Malam

Menko PMK Muhadjir Effendy memberikan kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid Istiqlal jelang shalat Tarawih, Rabu (14/4/2021) malam.

157
Menko PMK Muhadjir Effendy tampil memberikan kultum di Masjid Istiqlal, Rabu (14/4/2021) malam. (Foto: istimewa)

Jakarta, Muslim Obsession – Bulan suci Ramadhan menyediakan banyak hikmah dan keberkahan. Pada bulan Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa sebagai wujud kepatuhan dan ketakwaan terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, puasa Ramadhan bukan hanya dilakukan pada siang hari, melainkan juga pada malam hari. Artinya, upaya menahan diri harus tetap dilakukan selama sebulan penuh Ramadhan.

“Puasa kita itu adalah puasa 1 (satu) bulan Ramadhan. Bukan puasanya itu hanya siang hari saat tidak makan tidak minum. Malam juga puasa, hanya saja ada keringanan, yaitu boleh makan dan boleh berhubungan suami istri. Jadi jangan berpikiran, puasanya kan siang, kalau malam ya bebas kita boleh ke diskotek, boleh macam-macam (yang negatif), yang penting puasanya tidak makan minum, jadi tidak batal. Inilah makna yang keliru dari ibadah puasa,” tutur Muhadjir saat memberikan kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid Istiqlal jelang shalat Tarawih, Rabu (14/4/2021) malam.

BACA JUGA: Menko PMK: Boleh Shalat Tarawih dan Ied Berjamaah Tapi dengan Protokol Kesehatan Ketat

Muhadjir lalu menjelaskan keringanan puasa. Barang siapa yang bepergian ataupun sakit maka orang itu dapat membatalkan puasa dan mengganti dengan hari yang lain.

Apalagi, jika kondisi bepergian dan sakit itu dapat mengancam keselamatan orang tersebut maka puasanya dapat dibatalkan. Sesungguhnya, ungkap Muhadjir, Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran.

“Kalau dia bepergian dan dia sakit tapi nekat berpuasa, hukumnya adalah haram. Saat pandemi seperti sekarang yang dapat mengancam kehidupan berbangsa, kita dapat meninggalkan (puasa), berupaya mencegah, membendung ancaman bahaya yang sedang melanda bangsa Indonesia,” tegas di depan jamaah di masjid terbesar Asia Tenggara itu.

BACA JUGA: Masjid Istiqlal Gelar Shalat Tarawih dan Idul Fitri, Jamaah Dibatasi

Lebih lanjut, dijelaskan Muhadjir menurut kaidah fikih Islam, mencegah terjadinya kerusakan dan kehancuran lebih diutamakan daripada mencari manfaat atau mencari faedah yang belum tentu bisa didapat.

“Itulah kenapa misalnya mudik ditiadakan, shalat Tarawih dibatasi,” kata Menko PMK.

Seperti pernah dijelaskan, mudik berpotensi menyebarkan Covid-19 ke ayah, ibu, sanak  saudara di kampung halaman. Oleh karenanya, pemerintah kembali melarang mudik lebaran tahun ini mulai tanggal 6 – 17 Mei.

Sementara shalat Tarawih di Masjid Istiqlal diketahui sudah menjalankan protokol kesehatan secara ketat. Mulai di pintu masuk, jamaah diperiksa suhu badan, saf antarjamaah berjarak sekitar satu meter, ketika datang dan pulang tarawih pun diterapkan antrean berjarak.

Shalat Tarawih berjamaah yang diimami oleh Drs. H. Muhasyim Abdul Majid, MA itu juga tetap khusyuk kendati dipersingkat dengan membaca surat-surat pendek. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here