Banser Seperti Artis, Banyak yang ‘Ngefans’ dan Mudah Viral

630
Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Deni Ahmad Haidar (Foto: NU)

Jakarta, Muslim Obsession – Barisan Ansor Serbaguna atau Banser kini tengah menjadi sorotan publik. Pasalnya, ulah mereka yang membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid, Senin (22/10/2018) berhasil menyedot perhatian umat.

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Deni Ahmad Haidar justru menilai pamornya Banser layaknya selebritis yang selalu diperhatikan gerak-geriknya.

“Banser kayaknya seperti artis ya, banyak yang memperhatikan…ha…ha. Banyak sekali yang ngefans, pengagumnya,” respons Deni ketika ditanya terkait anggota Banser yang dianggap keliru tindakannya, kemudian diviralkan di media sosial.

Menurutnya, sesuatu yang dianggap keliru bukan menjadi ajang untuk saling mengingatkan atau tabayun, tapi mem-bully.

Melansir NU Online, Rabu (24/10/2018) bagi Deni, kalangan seperti itu sebenarnya layak dikasihani karena hidupnya selalu mencari kesalahan orang lain. Cara hidup seperti bukan yang diajarkan agama Islam.

Menurut dia, orang yang selalu memperhatikan itu, paling tidak, menandakan dua hal yakni cinta dan benci. Kalau cinta, ketika ada anggota Banser berprestasi, misalnya, turut senang atau bangga dan mengabarkan kepada yang lain. Tapi, kalau ada anggota Banser keliru, dia mengingatkan.

Sebaliknya, kalangan yang membenci, saat mendengar Banser berprestasi atau melakukan kebaikan, ia mencibir atau diam. Namun, ketika mendengar melakukan sesuatu yang dianggapnya keliru, menjadi makanan empuk untuk menghakimi beramai-ramai.

“Bagi yang membenci, Banser itu sepertinya ancaman bagi mereka,” lanjut pria asal Purwakarta ini.

Ia menengarai, karena selama ini Banser, bahkan sejak kelahirannya, adalah salah satu kalangan yang tegas mempertahankan ideologi Pancasila. Siapapun, organisasi apapun yang ingin mengganti Pancasila akan berhadapan dengan Banser.

“Kita selalu menjadi halangan bagi mereka yang ingin menghancurkan NKRI. Mereka punya agenda yang aneh-aneh. Soal Garut misalnya, kalau itu masuk persoalan hukum, tinggal dibawa ke polisi. Kalau itu masalah terkait dengan persoalan agama, mari kita bahas secara agama. Ini mah malah ramai di media sosial,” jelasnya.

Kalangan seperti itu, lanjut Deni, targetnya hanya satu, yaitu berupaya keras mencitrakan Banser itu jelek, kemudian dijauhi. Padahal itu tidak akan berpengaruh!

“Kalau su’udzan saya begitu,” katanya sambil tertawa lagi.

Bully, caci maki di media sosial, menurut Deni, tidak akan menggoncangkan anggota Banser. Bahkan akan makin bersemangat tinggi.

“Mereka (Banser) tidak lepas koordinasi dari kiai-kiai. Kalau ada yang keliru, tinggal ngomong kepada kiai. Jangan dianggap Banser sendirian, tidak mendapat perhatian dari kiai,” pungkasnya. (Vina) 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here