Bagi yang Belum Tahu, Ini Syarat Wajib dan Sahnya Puasa di Bulan Ramadhan

359

Jakarta, Muslim Obsession – Kurang lebih satu minggu lagi umat Islam akan bersiap diri menyambut bulan suci Ramadhan. Selama satu bulan penuh umat Islam diwajibkan untuk berpuasa. Puasa di bulan Ramadhan menjadi salah satu ketentuan dari lima rukun Islam.

Keistimewaan melakukan puasa di bulan ini adalah dihapus dosa-dosanya. Hal ini sesuai dengan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

(“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”).

Dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ada syarat-syarat yang bersifat wajib dan sah. Berikut syarat-syarat tersebut:

1. Beragama Islam

Beragama Islam menjadi syarat wajib dan sah puasa, demikian disampaikan Ustadz Bahrul Ulum bahwa ketentuan puasa sebagai ibadah masuk dalam rukun Islam seperti dalam Hadits Imam Turmudzi dan Imam Muslim yang berbunyi:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ

(Dari Abi Abdurrahman, yaitu Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab r.a, berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ‘Islam didirikan dengan lima hal, yaitu persaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, didirikannya shalat, dikeluarkannya zakat, dikerjakannya Haji di Baitullah (Kabah), dan dikerjakannya puasa di bulan Ramadhan’).

2. Baligh (dewasa)

Menurut Ustadz Bahrul Ulum, baligh menjadi syarat wajib bukan syarat sah berpuasa. Orang yang belum baligh atau anak-anak belum diwajibkan berpuasa.

“Anak dari kecil harus mulai diajarkan puasa. Mereka sah berpuasa, walaupun belum diwajibkan,” kata Ustadz Bahrul Ulum dalam YouTube Syariah Channel, yang dikutip Selasa (14/4/2020).

3. Berakal atau tidak gila

Bagi orang yang tidak berakal atau gila, tidak diwajibkan untuk berpuasa. Hal tersebut berdasarkan hadits riwayat Abu Daud dan Ahmad:

رُفِعَ اْلقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النّائِمِ حَتّى يَسْتَيْقِظُ وَعَنِ اْلمَجْنُوْنِ حَتّى يُفِيْقَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَبْلُغَ

(Tiga golongan yang tidak terkena hukum syari: orang yang tidur sampai ia terbangun, orang yang gila sampai ia sembuh, dan anak-anak sampai ia baligh).

4. Mampu

Dikatakan mampu apabila seseorang dalam kondisi sehat untuk berpuasa. Bila tidak mampu, maka diwajibkan untuk mengganti di bulan berikutnya dengan membayar fidyah.

“Sehat atau mampu itu syarat wajib bukan sah, orang sakit itu enggak wajib tapi kalau memaksakan untuk puasa dihitungnya sah,” ujar Ustadz Bahrul Ulum.

5. Suci dari haid dan nifas

Syarat yang satu ini berlaku bagi wanita, sekaligus menjadi syarat wajib dan sah berpuasa.

Wanita yang sedang haid atau nifas boleh tidak berpuasa, namun wajib menggantinya di hari setelah bulan Ramadhan. Hal tersebut berdasarkan hadits Rasulullah Saw yang berbunyi:

“Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya. Aisyah menjawab:

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat. (HR. Muslim, no. 335).

6. Mengetahui awal Ramadhan

Syarat lain dalam berpuasa adalah mengetahui awal bulan Ramadhan. Caranya dengan melihat hilal secara langsung dan melalui saksi yang dapat dipercaya. Namun, bila tak dapat dilihat makan bisa menentukan awal bulan Ramadhan dengan menghitung bulan Syaban menjadi 30 hari.

Syarat sah ini diriwayatkan Imam Bukhari yang berbunyi:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُواعِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

(Berpuasa dan berbuka lah karena melihat hilal, dan apabila hilal tertutup awan maka sempurnakanlah hitungannya bulan menjadi 30 hari). (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here