Bagaimana Nabi Ibrahim Menemukan Kembali Titik Ka’bah dari Palestina

80

Jakarta, Muslim Obsession – Ka’bah sebagai Baitullah atau rumah Allah memiliki sejarah panjang. Bangunan yang mulia ini dipugar pertama kali pada masa Nabi Ibrahim As. Namun, para ulama bersepakat bahwa titik bangunan suci itu sudah ditentukan sejak masa Nabi Adam As.

Rentang waktu antara Nabi Adam dan Nabi Ibrahim sangatlah panjang. Nabi Ibrahim sendiri lahir dan besar di Palestina. Lalu bagaimana caranya Nabi Ibrahim bisa menemukan kembali titik ka’bah di kot suci Makkah, untuk dibangun sebagai rumah Allah.

Dibantu Malaikat Jibril

Ada banyak versi menarik mengenai hal ini. Salah satunya, seperti yang dituturkan Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid atau masyhur dengan nama Imam Ath Thabari dalam kitabnya, Tarikh al Umam wa al Muluk. Dengan mengutip jawaban Ali bin Abi Thalib ketika ditanya terkait hal ini, ia mengatakan

“Allah Swt mengirimkan as Sakinah (ketenangan), berupa angin yang memiliki dua penjuru. Satu penjuru mengikuti yang lain. Keduanya terus bergerak hingga ke Makkah dan berputar-putar di lokasi ka’bah, mirip ular yang sedang melingkar,” tulis ath Thabari.

Masih dalam kitab yang sama, Ath Thabari juga menyuguhkan versi lainnya. Yakni, sebuah kisah yang menceritakan bahwa perjalanan Nabi Ibrahim yang menempuh jarak sekurangnya 1.500 kilometer itu dipandu Malaikat Jibril As.

Ath Thabari menjelaskan, setelah Allah Swt menampakkan lokasi Baitullah dan tanda-tanda Tanah Haram kepada Ibrahim, ia langsung berangkat ditemani Jibril. Hingga setiap memasuki sebuah desa, Nabi Ibrahim selalu bertanya;

“Di tanah inikah engkau diperintah untuk memberitahuku, wahai Jibril?”

“Teruslah berjalan,” jawab Jibril.

Tanah merah

Sesampainya di Makkah yang kala itu masih berupa tanah tandus dan belum berpenguni, Nabi Ibrahim melihat gundukan tanah berwarna merah. Dia pun menanyakannya kembali, “Apakah aku diperintahkan untuk membangun kakbah di sini, ya Jibril?”

“Ya, benar,” jawab Jibril.

Setelah itu, Nabi Ibrahim dan Ismail dengan penuh semangat memenuhi perintah Allah Swt membangun ka’bah. Bangunam suci ini berada di suatu lembah dari pegunungan di kota Makkah.

Ibn Fadhilah al Umari dalam Masalik al Abshar fi Mamalik al Amshar mengatakan, untuk membangun fondasinya, mereka memboyong bebatuan dari Gua Hira. Sementara bahan-bahan lainnya diambil dari lima gunung, yakni Hira, Lubnan, al Judi, Thursina, dan Thurzetta. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here