Bagaimana Hukum Orang Awam Sampaikan Dakwah?

64

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Orang yang bicara agama tanpa mengetahui tentang ilmu yang dibicarakan maka akan dimintakan pertanggung-jawabannya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya,” (QS. Al-Isra’: 36).

Setelah menyebutkan pendapat para Salaf tentang ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Kesimpulan penjelasan yang mereka sebutkan adalah: bahwa Alloh Ta’ala melarang berbicara tanpa ilmu, yaitu (berbicara) hanya dengan persangkaan yang merupakan perkiraan dan khayalan.” (Tafsir Al-Qur’anul Azhim)

Imam Ali bin Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata: “Barangsiapa berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia hanyalah mengikuti hawa-nafsunya”. (Kitab Minhah Ilahiyah Fii Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah, hal: 393)

Allah telah berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ

“Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun,” (QS. Al-Qashshash: 50).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan orang yang bicara agama tanpa ilmu, orang yang berdakwah tanpa ilmu sebagaimana sabda beliau:

مَنْ أَفْتَى بِغَيْرِ عِلْمٍ لَعَنَـتْهُ مَلَائِكَةُ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Barangsiapa berfatwa (bicara agama) tanpa ilmu, maka ia dilaknat oleh para malaikat di langit dan di bumi,” (HR. Ibnu ‘Asakir).

Lebih seram lagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan untuk tidak berfatwa dan mengeluarkan pendapat tentang agama yang akhirnya di ikuti orang banyak, sebab bisa dibenamkan di nanah kubangan Neraka. Na’udz billah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

“Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut,” (HR. Abu Dawud).

Imam Syafii, memberi komentar bagi orang yang mengaku bahwa dirinya sudah mampu berdakwah, dan sudah memiliki Ilmu yang sepadan dengan para Assatidz yang benar-benar belajar dan menuntut Ilmu.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

مَنْ سَامَ بِنَفْسِهِ فَوْقَ مَا يُسَاِوي رَدَّهُ اللهُ تَعَالَى إِِلَى قِيْمَتِهِ

(الْمَجْمُوْع شَرْحُ الْمُهَذَّبِ، 1\13)

“Barangsiapa yang mengklaim dirinya telah mencapai derajat yang belum ia capai, maka Allah akan membuka kedoknya dan mengembalikannya ke derajat dia yang sesungguhnya.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 1/13).

Wallahu a’lam bish Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here