Ayo Bergerak, Membangun Ekonomi Berbasis Masjid

232

Oleh: Anding Sukiman (Ketua PW Parmusi Jawa Tengah)

Tulisan ini terinspirasi dari cerita kawan tentang kebangkitan ekonomi Jepang. Setelah Hirosima dan Nagasaki dibom sekutu, Jepang porak poranda. Gedung-gedung dan bangunan lain hancur, ekonomi hancur-lebur, dan korban jiwa juga tidak sedikit.

Rakyat Hirosima dan Nagasaki yang masih hidup juga banyak yang cacat seumur hidup. Selain cacat secara fisik, rakyat Jepang juga menderita sakit kejiwaan akibat guncangan bom yang mengoyak kemanusiaan ini.

Jepang hancur!!

Masih untung di antara reruntuhan itu terdapat seorang pemimpin spiritual yang membangkitkan semangat hidup warga Jepang. Mereka yang menyembah matahari mencoba bangkit dari keterpurukan.

Tokoh spiritual agama Shinto ini terus menerus memberikan motivasi setiap selesai persembahyangan dan juga mengajak warga Jepang untuk bangkit. Lalu dia kumpulkan para ahli di berbagai bidang.

Mereka yang sehat bekerja keras untuk mencari makanan, mengolahnya dan memberikannya kepada rekan-rekannya yang sakit. Sementara mereka yang sakit juga saling menyemangati, sehingga menjadi kohesi kehidupan yang sehat dan harmonis meskipun dalam kesengsaraan akibat bencana bom yang ditimpakan sekutu.

Setelah urusan pangan dan orang yang sakit tersembuhkan, warga Jepang mulai bangkit. Mereka bahu-membahu sesuai bidangnya masing-masing, sehingga saat ini kita saksikan pada akhirnya Jepang menjadi negara maju dan modern.

Kini, mari kita bicara tentang Indonesia. Sebuah negara dengan penduduk mayoritas pemeluk agama Islam. Agama Islam sesungguhnya telah mengajarkan umatnya untuk terus bangkit dan semangat membangun diri dalam kebersamaan.

Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” (QS. Asy-Syura [42]: 38).

Ayat di atas sangat tegas menyuruh kita melaksanakan shalat dan memusyawarahkan segala urusan serta menginfaqkan sebagian rezeki yang Allah limpahkan kepada kita. Perintah-Nya sudah sangat tegas kepada umat Islam, tetapi mengapa kondisi kehidupan umat Islam masih terpuruk seperti sekarang ini?

Sadar akan perintah Allah seperti tertuang dalam ayat di atas, kami mengajak takmir masjid se-Jawa Tengah untuk bangkit bersama mengurus jamaah umat Islam, baik yang sudah masuk masjid maupun yang masih belum mau berjamaah shalat di masjid.

Setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri, takmir masjid sudah terbiasa menerima dan mengurus serta menyalurkan zakat fitrah dari para muzakki kepada yang berhak menerima zakat. Dosakah jika para takmir masjid tersebut selain mengurus dan menyalurkan zakat fitrah juga mengurus kebutuhan lain yang dibutuhkan umat Islam?

Para pengurus masjid harus sadar bahwa kebutuhan jamaah tidak hanya soal shalat di masjid, tetapi juga harus mengurus kebutuhan jamaah, sehingga para jamaah terbangun kesadaran bahwa keberadaan masjid sangat diperlukan agar di antara jamaah bisa saling membantu dalam kebaikan.

Sesungguhnya sangat banyak yang bisa diurus oleh pengurus masjid, misalnya kebutuhan daging halal. Setiap jamaah sudah sangat terbiasa mengkonsumsi daging ayam, kambing, sapi. Mereka membeli di pasar-pasar yang ada.

Namun apakah yakin daging ayam yang dibeli tersebut adalah halal? Atau yakinkah daging sapi yang disembelih itu pasti halal? Kalau daging bangkai bagaimana? Apakah tidak lebih baik jika ada persatuan takmir masjid dalam wilayah kecamatan membentuk rumah potong hewan? Lalu mengadakan sembelihan halal?

Sesungguhnya ada banyak contoh urusan umat yang bisa diurus oleh pengurus masjid atau takmir masjid. Misalnya lagi soal kebutuhan air minum. Seperti kita ketahui bersama bahwa air adalah sumber kehidupan. Jika tidak ada air, maka makhluk hidup akan sulit hidup.

Demikian juga kita yang setiap hari butuh air minum sekitar 2 liter sesuai standar kesehatan. Jika dalam satu wilayah kelurahan berpenduduk 6.000 jiwa, dan selama ini mereka mengkunsumsi air galon produk perusahaan asing, apakah salah jika takmir masjid membeli mesin isi ulang yang canggih kemudian menjual airnya itu kepada jamaah yang jumlahnya 6.000 jiwa itu?

Dan coba hitung berapa keuntungan yang diperoleh sehingga bisa digunakan untuk gerakan dakwah, daripada keuntungan dari penjualan air minum tersebut disumbangkan perusahaan air minum untuk membiayai gerakan ekstrim anti Islam di luar negeri.

Coba dihitung juga, misalnya, di sebuah kelurahan berpenduduk 6.000 jiwa setiap hari kebutuhan air minumnya 2 liter, maka dalam satu hari dibutuhkan 600 galon untuk mencukupi kebutuhan warga atau umat Islam. Jika setiap galon diambil keuntungan Rp.2000,- maka dalam sehari takmir masjid mendapat untung Rp.1.200.000, dan jika dalam sebulan bisa mencapai Rp.36 juta. Bukankah ini angka yang cukup besar?

Tapi yang menjadi masalah saat ini, berkembang pemikiran bahwa takmir masjid hanya bertugas mengurus masjid dan tidak mengurus jamaah apalagi kebutuhan jamaah. Bahkan dalam struktur kepengurusan takmir masjid tidak ada bagian yang mengurus kesejahteraan jamaah masjid.

Karena itu, apakah tidak lebih baik jika mulai saat ini struktur takmir masjid ditambah bagian atau bidang kesejahteraan umat? Atau apa saja yang bisa menjadi kanal dalam urusan umat. Karena keberadaan bagian urusan umat ini akan menjadi pengikat bagi semua muslim untuk selalu ingat masjid.

PW Parmusi Jawa Tengah berpandangan bahwa saat ini suda saatnya takmir masjid bangkit dari tidur nyenyaknya dan bangun untuk mengurus ekonomi umat, karena hal ini tidak dilarang. Bahkan sebaliknya, sangat sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang merupakan amanat yang terkandung dalam QS. Suarat Asy-Syuro ayat 38 di atas.

Jepang saja bisa bangkit dari keterpurukan akibat bom di Hirosima dan Nagasaki, atas upaya kebersamaan dan sikap penyembah matahari. Nah, apakah kita tidak bisa bangkit meskipun sudah ada perintah dari Allah Ta’ala?

Ayo bergerak!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here