Asy-Sya’bi dan Kunci dalam Memahami Ilmu

3252
Anak-anak muslim sedang membaca Al-Quran (Photo: Indian Times)

Oleh: Ustadz Budi Ashari, Lc

(4 Resep dari Asy-Sya’bi untuk melahirkan Generasi yang kokoh Ilmunya, wajib disimak para orangtua, pendidik dan penuntut ilmu..)

Untuk generasi zaman ini, simaklah pesan yang pernah disampaikan oleh Amir bin Syurahbil atau yang lebih dikenal dengan nama Asy-Sya’bi rahimahullah. Beliau lahir selang 6 tahun setelah masa Amirul Mu’minin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Keilmuan beliau termasuk yang paling unggul di zamannya. Untuk mengetahui tingkatan ilmu beliau, cukuplah kita mendengar penuturan beliau:

“Yang paling sedikit dari yang aku pelajari adalah syair-syair. Namun seandainya aku mau membacakan syair-syair yang aku ketahui, tentu akan memakan waktu sebulan penuh tanpa mengulang-ulang yang sudah aku sebutkan.”

Suatu ketika, ada seseorang yang bertanya pada Asy-Sya’bi, “Bagaimana caranya sehingga engkau dapat mencapai derajat keilmuan seperti ini?” Maka dijawablah oleh Asy-Sya’bi, yang jawabannya juga menjadi resep bagi kita untuk melahirkan generasi mendatang umat ini. Generasi yang kokoh dan dicintai Allah.
Asy-Sya’bi berkata:

بنفي الاعتماد، والسير في البلاد، وصبر كصبر الجماد، وبكور كبكور الغراب

1. Pertama, tidak bersandar dengan kemampuan sendiri. Sebab bagi seorang yang berilmu, hafalan kuat dan kecerdasan saja tidaklah cukup. Ada pertolongan dan izin Allah yang melandasi kemampuan manusia. Maka minta tolonglah kepada Allah!

2. Kedua, menjelajahi negeri untuk belajar ilmu. Imam Syafi’i berangkat sejauh 500 km untuk belajar. Ini baru generasi kokoh! Bukan generasi yang malas belajar, padahal sudah ada motor dan mobil. Akan tetapi, jangan sekadar menjelajah tanpa ada kebaikan yang diperoleh. Menempati satu tempat namun ada ahli ilmu di dalamnya bisa jadi lebih baik daripada merantau. Sebagaimana Imam Syafi’i yang baru meninggalkan Madinah setelah Imam Malik wafat. Maka merantaulah, jika dengan merantau dapat menambah ilmu dan menambah rasa takutmu kepada Allah. Namun jika tidak ada yang kau dapat dari merantau selain berkurangnya usia dan lunturnya keimanan, tetaplah di negerimu.

3. Ketiga, bersabar seperti sabarnya benda mati. Seperti kursi. Siapakah yang lebih bersabar dan mampu bertahan lebih lama, kita yang menduduki kursi atau kursi yang diduduki oleh kita? Inilah nasihat emas dari asy-Sya’bi. Sebab kita melihat generasi hari ini adalah generasi yang lemah kesabarannya. Tidak tahan dengan waktu belajar yang lama dan tempat belajar yang jauh. Tidak tahan dengan guru yang mendidik dengan ketegasan.

4. Keempat, Cekatan seperti cekatannya elang yang memburu mangsa. Jangan lelet, lambat, dan klemar-klemer. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dari Abu Hurairah:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Antusiaslah terhadap segala sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”

Maka jadilah generasi yang sigap dan cekatan terhadap setiap peluang kebaikan. Peluang mendapatkan ilmu, peluang berinfaq, dan peluang-peluang amal shalih lainnya.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan ke Figur – @rzkft Batal balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here