Argumen Kemenag Rilis Daftar Mubaligh

467

Oleh: Thobib Al-Asyhar (Kabag OKeH Ditjen Bimas Islam, Penulis buku, dan Dosen Psikologi Islam Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia)

Di awal Ramadan tahun ini ada perbincangan sangat menarik. Bukan soal perbedaan penentuan 1 Ramadan, tapi soal rilis Kemenag tentang 200 mubalig.

Media elektronik dan cetak pun dibuat heboh. Apalagi di Media Sosial, hiruk pikuk status dan komen, silang pendapat, baik pro maupun kontra. Ada yang menyampaikan analisis, ada yang mempertanyakan, ada yang menolak total tanpa reason, ada yang membuat survey, dan tidak sedikit yang memapar hate-speech, judgment, dan lain-lain.

Pertanyaan yang sering diungkap adalah apa motif dan argumen yang mendasari munculnya rilis tersebut? Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin (LHS) saat kali pertama hal ini dirilis menyampaikan bahwa banyak pertanyaan masyarakat, baik individu maupun kelompok tentang nama-nama mubalig bagus yang dapat menyampaikan dakwah di masjid, mushalla, dan majelis taklim pada Kementerian/Lembaga.

Berdasarkan hal tersebut, Kemenag menyampaikan rilis awal sebanyak 200 mubalig yang dinilai memiliki kualifikasi khusus sebagai bentuk pelayanan cepat kepada masyarakat. Nama-nama itu muncul setelah mendapat berbagai masukan dari Ormas Islam, seperti NU, Muhammadiyah, dan beberapa masjid besar. Juga masukan dari sejumlah tokoh.

Menurut LHS, setidaknya ada tiga kriteria yang dijadikan parameter seorang mubalig atau dai yang dapat direkomendasikan, yaitu: kompetensi ilmu agama yang mendalam, memiliki reputasi (track record) yang baik, dan memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi. Namun, penjelasan Menag ini dianggap sebagian pihak masih belum jelas atau samar, sehingga muncul berbagai analisis yang mengarah pada simpulan sebagai packaging pemerintah untuk menghadapi tahun politik.

Ada juga pihak yang mencoba menarik dari sudut sempit, bahwa kebijakan ini telah membuat kegaduhan yang dapat membelah atau mengkotak-kotakkan para mubalig atau dai yang selama ini sudah membantu tugas-tugas Kemenag dalam membimbing dan membina umat Islam. Lalu muncul asumsi-asumsi, anasir-anasir, prasangka, dan tuduhan yang tidak proporsional kepada Kemenag.

Framing informasi yang menyeruak di media seperti ini jelas tidak tepat karena terlalu simplistis, tidak memiliki pisau analisis yang komprehensif dan pemahaman konteks secara utuh. Penjelasan Menag LHS dalam berbagai kesempatan, khususnya di TVOne (Senin, 21/5) sebenarnya sudah amat clear, terang, dan lengkap. Sehingga tulisan ini mencoba untuk membuat “syarah” atau ulasan lebih detail terhadap argumen Kemenag kenapa rilis daftar mubalig muncul.

Bagi penulis, rilis ini seharusnya dikeluarkan sejak dulu mengingat masyarakat sudah lama menunggu. Hal ini diperlukan sebagai panduan bagi masyarakat dalam memilih mubalig. Menag LHS berkali-kali menegaskan, bahwa daftar mubalig itu sebagai bentuk pelayanan, bukan seleksi, apalagi standarisasi. Dengan munculnya daftar ini setidaknya menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat yang menginginkan adanya panduan dalam memilih nama-nama penceramah agama yang memiliki kualifikasi khusus.

Seperti kita tahu bahwa dunia dakwah kita masih belum ideal. Berjalan di tempat, bahkan mengalami kemunduran mengingat kualitas bimbingan seakan menurun. Masih banyak orang yang tampil di publik dengan modal pas-pasan atau bahkan kurang. Selain itu rerata lembaga atau ormas keagamaan belum memiliki sistem yang mapan dalam rekrutmen mubalig, serta penyiapan materi yang terstruktur dan baik.

Kita saksikan berbagai peristiwa belakangan ini, melalui media elektronik, khususnya TV dan radio, banyak dikeluhkan publik mengenai kualifikasi mubalig/khatib yang sering menebarkan kebencian dan tampil ala kadarnya. Banyak di antara mereka yang berani muncul sebagai dai karena kemampuan retorika dengan aksentuasi bacaan Arab yang tidak fasih dan salah. Ada pula karena hanya bisa melantunkan lagu-lagu dengan penguasaan literasi keagamaan yang minim, dan lain-lain. Akibatnya, ada kejadian mubalig yang salah bacaan Arab, menyebut di sorga ada pesta seks yang disampaikan di TV nasional, dan lain-lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here