‘Arafah’ adalah Padang Ma’rifat

116
Jamaah Haji sedang memanjatkan doa di Padang Arafah. (Foto: liputan6)

Oleh: Habib Abdul Rahman Al-Habsyi (Majelis Sahabat Iman Peduli/Ketua Yayasan Syekh Ali Jaber)

Haji adalah alqashdu ilallah (sebuah perjalanan yang amat sangat disengaja dan sadar menuju Allah SWT). Haji, ibadah yang sarat akan makna filosofis.

Ibarat engkau menyelami lautan nan luas dan dalam. Semakin dalam engkau menyelami lautan ini, semakin jauh engkau dari tepiannya. Haji adalah samudera tak bertepi. Haji sarat dengan makna spiritual yang mendalam di balik ritual simboliknya.

Puncak dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah. “Al-Haj ‘Arafah,“ demikianlah sabda Nabi Mulia Rasulullah ﷺ. Wuquf berarti “berhenti“ walau sejenak. Dari segi pandangan hukum Islam, siapa yang berhenti walau sejenak di Padang Arafah setelah tergelincirnya matahari 9 Dzulhijjah, maka wukufnya dapat dinilai shahih.

BACA JUGA: Hikmah Rahmani: Mengenal Takdir

Wukuf di Padang Arafah. Dalam Islam, di daerah inilah dipertemukannnya Nabi Adam ‘alahissalam dan Siti Hawa, yang kemudian melakukan taubat kepada Allah Swt., sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran:

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi,” (QS. Al-A’raf: 23).

Padang Arafah dikenal sebagai miniaturnya Padang Mahsyar. Jutaan jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul di tempat ini. Tak ada beda antara pejabat dan rakyat, antara yang kaya dan miskin, dan tak ada sekat-sekat negara bangsa, yang ada hanya manusia sebagi makhluk Allah.

BACA JUGA: Hikmah Rahmani: Mencintai Kebenaran

Pakaian para pria berupa dua helai kain tanpa berjahit. Itu serupa dengan yang akan membungkus badan kita meninggalkan dunia yang fana ini. Lantunan Talbiyah yang menyatakan kehadiran ke Baitullah demi karena Allah sambil mengakui nikmat dan kebesaran-Nya, bertujuan menimbulkan suasana kebatinan yang mengantar seseorang berusaha mengenal jati dirinya serta menyadari kehadiran Allah serta keharusan mendekat dan merapat kepada-Nya.

“Berwukuf“, yang juga berarti menghentikan walau sejenak hiruk-pikuk kesibukan duniawi, untuk menuju ketenangan jiwa, serta berusaha melakukan perenungan. Mencoba mendengar bisikan suci nurani.

Padang Arafah merupakan ‘Padang Pengampunan’ dan ‘Padang Pencerahan’ bagi setiap diri yang ingin meningkatkan kualitas keislamannya. Padang Arafah adalah padang pengetahuan ma’rifat bagi perjalanan spiritual seorang hamba Allah yang ingin mendekatkan diri kepada- Nya.

BACA JUGA: Hikmah Rahmani: Penyakit Zhan (Sangka Buruk)

Tidak ada haji tanpa perenungan Arafah. Tidak akan pernah ada pencapaian puncak keislaman seorang muslim, tanpa ma’rifatullah.

Salah satu doa terbaik adalah doa yang dilantunkan di hari Arafah. Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda Rasulullah ﷺ:

خَيْرُ الدُّعاءِ دُعاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir,” (HR. at-Tirmidzi no. 3585).

Mari siapkan doa terbaik dan terindah di Hari Arafah tahun ini.

“Yaa Robbanaa… Penuhilah permintaan kami, kabulkanlah hajat dan harapan kami.  Allahumma Aamiin…”

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here