AR Baswedan Dianugerahi Gelar Pahlawan, Ini Cerita Cucunya

949
anies-baswedan-bersama-kakek-dan-ayahnya (Foto: Tribun)

Jakarta, Muslim Obsession – Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada kakek dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Abdurrahman Rasyid Baswedan atau AR Baswedan.

Keputusan penganugerahan gelar pahlawan nasional itu termaktub dalam Keputusan Presiden Nomor 123/TK/2018. Keputusan itu ditandatangani Jokowi pada 6 November 2018 dengan pedoman Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Penganugerahan itu disambut baik Anies Baswedan yang mewakili kakeknya menerima anugerah itu. Menurutnya, kebijakan Presiden Jokowi ini menjadi penyemangat bagi dirinya dan generasi muda melanjutkan perjuangan.

“Kami bersyukur pemerintah menganugerahkan itu dan ini amanat bagi kami semua meneruskan perjuangan,” kata Anies di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

View this post on Instagram

Siang tadi bersama seluruh keluarga diundang ke Istana Negara untuk menghadiri prosesi penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kakek kami, A.R. Baswedan. . Foto 2 berkebaya oranye adalah Imlati, anak ke-8 Kakek, lahir 1 Juli 1945. Imlati singkatan dari Indonesia Merdeka Lekas Akan Tercapai Insya Allah. Dinamai saat gelora menuju kemerdekaan makin menggemuruh. Serasa bulan depan akan merdeka… . Semasa kecil saya tinggal serumah bersama kakek di Yogyakarta. Setiap pulang dari TK atau sekolah, diajak berjalan kaki dari Jl. Dagen ke Kantor Pos Besar untuk mengirim surat atau tulisan ke surat kabar. Tiada hari tanpa menulis. . Sejak SD saya sering jadi juru ketik. Beliau bicara, saya mengetik. Di akhir surat, beliau selalu bilang: "Surat ini diketik oleh cucu saya, Anies." Saya bangga sekali 🙂 . Kemudian hari saya menyadari, itu cara beliau untuk membuat cucunya bangga, sambil memberitahu si penerima surat bahwa semua kesalahan ketik itu karena cucunya belajar ngetik 🙂 . Bersyukur sekali saya tumbuh dan berinteraksi dengan beliau sampai dengan masa SMA. . Peran A.R. Baswedan yang sering disebut adalah, beliau bersama H. Agus Salim menjalankan misi diplomatik tahun 1947 untuk dapat pengakuan de jure dan de facto dari Mesir di awal kemerdekaan. . Surat pengakuan yg ditandatangani PM Mesir itu dibawa dalam perjalanan berbulan-bulan oleh A.R. Baswedan dari Mesir ke Indonesia. Agar lolos melewati pemeriksaan Belanda, surat dilipat dan dimasukkan kaos kaki. Bila tertangkap, selesailah misinya: musnah suratnya, tak jelas nasib pembawanya. Untung lolos. Surat itu dibawa ke Yogjakarta dan diserahkan ke Presiden Soekarno. Sebuah babak baru: sejak itu ada pengakuan de Jure dan de facto atas Kemerdekaan RI. . Generasi pendiri republik telah hibahkan segalanya, kini giliran kita bertanggung jawab meneruskan yang sudah mereka perjuangkan. . Kami sampaikan apresiasi dan terima kasih ke semua pihak yang terlibat dalam proses pengusulan dari Yogya di tahun 2011 hingga pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada A.R. Baswedan.

A post shared by Anies Baswedan (@aniesbaswedan) on

AR Baswedan semasa hidupnya dikenal sebagai seorang nasionalis, jurnalis, pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, mubalig, dan sastrawan. Pada masa kemerdekaan, pria yang wafat pada 16 Maret 1986 itu pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pada masa kemerdekaan, AR Baswedan yang lahir di Ampel pada 1908 itu pun sempat masuk dalam kabinet yakni sebagai Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir. Selain itu ia diketahui pernah menjadi bagian dari Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Anggota Dewan Konstituante.

Usai menerima penganugerahan gelar pahlawan nasional pada kakeknya dari tangan Jokowi, Anies bercerita bahwa ia tumbuh menjadi remaja di bawah asuhan AR Baswedan. Ia menghabiskan waktu itu hingga duduk bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di Yogyakarta. Anies mengungkapkan banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa diambil saat tinggal bersama kakeknya itu.

“Beliau adalah orang yang memang mencintai Indonesia luar biasa dalam semua pikirannya, langkahnya, tindakannya begitu. Bahkan anaknya yang duduk di belakang ini namanya Imlati, itu lahir bulan Juli ketika beliau masih anggota BPUPKI,” ujarnya.

Selain kakek Anies, enam sosok yang dianugerahkan pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi lima orang lainnya adalah mantan Menteri Pekerjaan Umum Pangeran Mohammad Noor, pejuang dari Sulawesi Barat Agung Hajjah Andi Depu, dan Pendiri Perguruan Tinggi Islam Al Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon, Brigjen TNI (Purn) KH Syam’un.

Tokoh lainnya yang dianugerahi Pahlawan Nasional ialah Jaksa Agung periode 1945-1946 Kasman Singodimedjo yang juga menjabat Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II serta Ahli Strategi Perang melawan Belanda di Bangka Belitung, Depati Amir. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here