Apa yang Kita Sombongkan?

134

Oleh: Drs. H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Imam An-Nawawi atau Al-Imamul Fadhil Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi Damaskus menulis Syarh Shahih Muslim yang tebal itu sedang beliau tak punya Kitab Shahih Muslim.

Beliau menulisnya berdasar hafalan atas Kitab Shahih Muslim yang diperoleh dari gurunya, lengkap dengan sanad inti dan sanad tambahannya.

Sanad inti maksudnya, perawi antara Imam Muslim sampai Rasulullah. Adapun sanad tambahan, yakni mata rantai dari An-Nawawi hingga Imam Muslim.

Jadi bayangkan, ketika menulis penjabarannya, An-Nawawi menghafal 7.000-an hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim sekira 9-13 tingkat gurunya, ditambah hafal sanad inti sekira 4-7 tingkat rawi.

Dan yang menakjubkan lagi, penjabaran itu disertai perbandingan dengan hadits dari Kitab lain (yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya).

Penjelasan kata maupun maksud dengan atsar Sahabat, Tabi’in, dan ‘Ulama; munasabatnya dengan ayat dan tafsir, istinbath hukum yang diturunkan darinya dan banyak hal lain lagi.

Hari ini kita menepuk dada dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya.

Hari ini kita jumawa dengan alat tulis yang megah, dengan rujukan berasal dari daring, dan tak malu sedikit-sedikit bertanya pada Syaikh Google.

Kita baru menyebut satu karya dari seorang ‘Alim saja sudah bagai langit dan bumi rasanya.

Bagaimana dengan semua karyanya yang hingga umur kita tuntas pun takkan habis dibaca? Bagaimana kita mengerti kepayahan pada zaman mendapat satu hadits harus berjalan berbulan-bulan?

Bagaimana kita mencerna bahwa dari nyaris 1.000.000 hadits yang dikumpulkan dan dihafal seumur hidup, Al-Bukhari memilih 6.000-an saja atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al-Bukhari?

Tidakkah kita renungi mungkin semua ucap dan tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

Kita baru melihat satu sisi saja bagaimana mereka berkarya; belum terhayati bahwa mereka juga bermandi darah dan berhias luka di medan jihad.

Kita baru menghapal satu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, itu pun tanpa sanad dari hadits tersebut ke Imam Muslim sudah berani mencap amalan orang yang tidak seide dengannya dengan cap Bid’ah. Dan Bid’ah itu adanya di neraka…

Mereka kadang harus berhadapan dengan penguasa zhalim dan siksaan pedihnya, si jahil yang dengki dan gangguan kejinya.

Betapa menyesakkan.

Kita mengeluh listrik mati atau data terhapus, sementara Imam Asy Syafi’i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, dan dipaksa berjalan dari Shan’a (ibu kota Yaman) ke Baghdad (ibu kota Irak).

Kita menyedihkan laptop yang ngadat dan deadline yang gawat, sementara punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi dan petang hanya karena satu kalimat.

Kita berduka atas gagal terbitnya karya, padahal Imam Al-Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan hingga menjelang ajal agar terhindar dari puja.

Mari kembali pada An-Nawawi dan tak usah bicara tentang Majmu’-nya yang berisi syarah Hadist Imam Muslim yang 35 jilid yang amat dahsyat dan Riyadhush Shalihin-nya yang permata dunia hadits.

Mari perhatikan karya tipisnya; Al-Arba’in. Betapa barakahnya kitab tersebut. Disyarah beratus, dihafal beribu, dikaji berjuta manusia dan tetap menakjubkan susunannya.

Maka tiap kali kita bangga dengan “best seller”, “nomor satu”, “juara”, “dahsyat”, dan “terhebat”, liriklah kitab kecil itu.

Lirik saja, agar kita tahu bahwa kita belum apa-apa, belum ke mana-mana, dan bukan siapa-siapa. Lalu belajar, berkarya, bersahaja. Dan gak usah kita membid’ahkan amalan orang, lantaran kita cuma hapal satu hadits, kullu bid’atin dholalah

Jadi ilmu kita masih cetek tidak ada apa-apanya dengan para ulama, dengan Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarif An-Nawawi Damaskus. Sang Imam ini memilih Mazhab Syafii sebagai panduan ibadahnya.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here