Al-Qalasadi, Ilmuwan Matematika Muslim Terakhir di Spanyol

301
Ilustrasi Matematika

Muslim Obsession –  Lima ratus tahun lalu, lahir seorang ilmuwan matematika Muslim di Baza, yakni sebuah kota kecil di Spanyol Selatan. Namanya Abu’l Hasan ibn’Ali Al-Qalasadi (1412-1486) atau yang dikenal dengan nama Al-Qalasadi.

Sejak kecil, Ia belajar ilmu disiplin Islam di kota kelahirannya sampai ia berusia 24 tahun. Suatu ketika ia melakukan perjalanan melalui Afrika Utara selama 15 tahun. Hanya untuk mempelajari dan mendiskusikan berbagai mata pelajaran.

Bahkan, dirinya sempat bertemu dengan ulama terkenal Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika berada di Mesir. Beberapa lama kemudian, ia memutuskan untuk kembali ke Spanyol, dan menetap di Granada. Di mana dia terus belajar tiada henti. Namun, dia fokus mendalami ilmu matematika, hukum dan filsafat.

Al-Qalasadi terkenal karena karyanya dalam matematika. Ia telah menulis setidaknya 11 karya utama. Yang paling signifikan adalah mengenai komentar tentang Ilmu Aritmatika. Di dalam bukunya, Al-Qalasadi memperkenalkan simbol aljabar baru.

Dia menggunakan simbol yang mirip dengan simbol integral (seperti hari ini =). Dia juga pencetus penggunaan bahasa Arab yang setara dengan m untuk nilai-nilai kuadrat seperti (x2) dan bahasa Arab yang setara dengan K untuk nilai-nilai kubik seperti (x3).

Dia membakukan penggunaan istilah Arab “wa” sebagai nilai tambah (+), “illa” untuk pengurangan (-), “fii” untuk perkalian (x), dan “‘ala” untuk pembagian (:). Dia juga ilmuwan pertama yang memisahkan pembilang dan penyebut pecahan dengan sebuah garis.

Semua kontribusi yang ia berikan, diakui sangat bermanfaat dalam dunia pendidikan khususnya di bidang Ilmu Matematika yang sampai saat ini masih digunakan.

Al-Qalasadi adalah orang pertama yang menekankan pentingnya metode pendekatan yang berurutan, yang sekarang dianggap sebagai rumus penting dalam kalkulus.

Tidak hanya itu, Al-Qalasadi juga banyak menulis tentang ilmu waris atau Ilmu Al-Faraid. Pada saat yang sama, dia tidak membiarkan fokusnya pada matematika membuatnya mengabaikan kemampuan kreatif dan artistiknya.

Al-Qalasadi bahkan menulis seluruh buku yang menjelaskan aturan aljabar dalam bentuk puisi. Salah satu murid Al-Qalasadi, Abu ‘Abd Allah As-Sanusi, menulis 26 buku tentang matematika dan astronomi. Beberapa di antaranya menjadi teks otoritatif di seluruh Afrika Utara.

Tetapi, kisah Al-Qalasadi ini mungkin bisa dikatakan berakhir dengan catatan yang menyedihkan. Karena, dia dianggap sebagai matematikawan Muslim terakhir di Andalusia, Spanyol.

Pada tahun 1492, enam tahun setelah kematian Al-Qalasadi, Granada, kota Muslim terakhir yang tersisa di Spanyol, jatuh ke tangan pasukan Kristen Ferdinand dan Isabella.

Tahun berikutnya, Uskup Agung Cisneros memerintahkan konversi paksa umat Muslim dan Yahudi ke Kristen dan pembakaran naskah berharga mereka, termasuk tulisan-tulisan seperti Al-Qalasadi.

Namun untungnya, karya dan gagasan Al-Qalasadi bertahan dan terus digunakan selama berabad-abad. Terbukti, ulama Muhammad Dawud dalam bukunya menulis bahwa pada tahun 1920, sang ayah mengajarinya matematika dari kitab yang ditulis Al-Qalasadi.

Satu hal yang sangat mengejutkan tentang Al-Qalasadi ialah cintanya terhadap Al-Quran lebih dari apapun. Dia mempelajari Al-Quran dengan sangat baik.

Hingga para ilmuwan mengakuinya sebagai contoh cemerlang. Dia membuktikan bahwa mempelajari Al-Quran secara ekstensif tidak mempengaruhi kemampuannya untuk unggul sebagai seorang matematikawan.

Bahkan sebaliknya, Al-Quran lah sumber ilmu yang paling utama. Karena Al-Quran tidak hanya sumber inspirasi bagi umat Islam. Tetapi berulang kali Al-Quran menyerukan orang beriman untuk merenungkan cara fungsi alam semesta.

(Vina – Sumber: Qalasadi, the last great Muslim mathematician of Spain)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here