Al-Ghuroba, Orang-Orang yang Beruntung

130

Oleh: Ustd. H. Abdul Ghoni Djumhari (Wakil Ketua Lembaga Dakwah Parmusi)

:عن أبي هريرة رضي الله عنه قال؟ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ”،قيل:ومن الغرباء يا رسول الله؟ قال: ((الذين يصلحون عند فسادالناس)) و فى رواية قيل: إنه سئل عن الغرباء قال: الذين يحيون ما أمات الناس من سنتى

Dari Abu Ghurairoh radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang ‘asing’.”Dikatakan: Siap Al-Ghuroba ya Rasulullah? Beliau bersabda: ((Yaitu orang-orang yang mengadakan perbaikan tatkala manusia telah rusak)). Dan pada riwayat lain dikatakan: Beliau ditanya tentang Al-Ghuroba, beliau bersabda: ((Yaitu orang-orang yang menghidup-hidupkan sunahku tatkala orang-orang telah mematikannya)),” (HR. Muslim).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

Pertama, akan ada zaman ketika melaksanakan tuntunan menjadi tontonan. Akan ada masa tatkala menunaikan keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dianggap sebagai keanehan. Akan ada saat manakala bersungguh-sungguh dalam memenuhi kewajiban agama dipandang sebagai perilaku berlebihan dan bahkan melampaui batas. Akan datang suatu masa saat berpegang teguh kepada dienul Islam ini dianggap ketidakwarasan. Mereka asing di mata manusia, dan manusiapun mengasingkannya. Tetapi mereka adalah sebaik-baik manusia.

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم ونحن عنده: طوبى للغرباء. فقيل: من الغرباء يا رسول الله؟ قال: أناس صالحون في أناس سوء كثير. من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم. رواه أحمد وصححه الألباني

“Dari Abdullah bin Amr ibnul As berkata: Pada suatu hari kami  bersama rasulullah saw beliau bersabda: Beruntung orang yang asing. Rasulullah ﷺ ditanya, siapa itu orang yang asing? Beliau menjawab: Orang-orang yang shaleh ditengah orang-orang yang jelek. Orang-orang yang berbuat maksiat lebih banyak dari pada yang ta’at,” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Bani).

Kedua, jika telah tiba masanya, yang bersungguh-sungguh melaksanakan agama ini dianggap aneh. Amalan mereka tampak asing. Mereka melaksanakan amal shalih dan ‘ibadah berdasarkan tuntunan shahih dari Rasulullah ﷺ, tapi manusia mengingkari. Orang-orang yang dianggap asing dan terasingkan itu sesungguhnya justru orang yang shalih di tengah-tengah kerusakan yang menimpa umat.

Ketiga, masa ketika petunjuk yang terang dari nash (Al-Quran dan Sunnah) diabaikan. Nash diambil bukan untuk dalil, tapi untuk pembenaran. Inilah masa ketika orang banyak yang beramal berdasarkan perkataan-perkataan orang yang pandai bicara, meski nyata bertentangan dengan nash. Inilah masa ketika berpegang teguh pada sunnah justru dianggap meninggalkan sunnah. Mereka dicerca dan tersisih. Kebenaran bagai bara api.

“يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ”

“Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api,” (HR. Tirmidzi).

Keempat, orang-orang yang istiqomah dalam ketaatan menjalankan agamanya itulah yang beruntung. Tetap berada diatas sunah, walupun sudah merajalela bid’ah.

Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Orang yang beruntung:

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ

“Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik,” (QS. Ar-Rad: 29).

2- Allah SWT akan selalu melindungi orang shalih.

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya pelindungku ialah Yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih,” (QS. Al-Araf: 196).

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here