Al-Anwar Lampung: Masjid Bersejarah Berusia Ratusan Tahun

421

Selang lima tahun, setelah terkena letusan gunung Krakatau pada tahun 1888 M, Daeng Sawijaya melalui musyawarah dengan para saudagar dari Palembang, Banten, dan Bugis, disertai semangat yang tinggi, membangun kembali sarana ibadah itu. Mereka tidak lagi mendirikan surau, tetapi langsung mendirikan masjid yang lebih permanen.

Masjid Jami’ Al-Anwar, artinya adalah yang bercahaya dan pemersatu. Dengan mengacu pada rukun iman, masjid tersebut ditopang enam tiang yang berasal dari Kayu Merbau tanpa menggunakan semen, melainkan campuran putih telur ayam dengan kapur.

“Hingga saat ini, kayu dan adukan putih telur serta kapur masih ada di tengah tiang meski melalui berbagai renovasi,” terangnya.

Abdullah menuturkan, sejak awal berdirinya, Masjid Al-Anwar selalu menjadi tempat mengatur strategi perjuangan. Pertemuan antarpejuang dan ulama serta masyarakat kerap berlangsung di masjid seusai shalat atau pengajian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here