Akbar Mahomed, Dokter Muslim yang Percaya Umur Manusia Bisa Diperpanjang

165
Dokter Frederick Akbar Mahomed (Foto: Al-Arabiya)

Muslim Obsession Frederick Akbar Mahomed, dokter abad ke-19 dari Brighton, Inggris, adalah perintis yang menemukan bahwa kehidupan manusia dapat diperpanjang dengan mengurangi tekanan darah.

Hal ini ditemukan setelah dirinya meneliti nefritis (radang ginjal) dan hipertensi. Tak disangka, penelitian ini menghasilkan pengenalan catatan investigasi kolektif dari Asosiasi Medis Inggris.

Namun kini di negaranya sendiri, nama Dr. Mahomed nyaris dilupakan. Padahal, kontribusinya amat besar dalam pengobatan modern di Inggris.  

Dikutip dari Al-Arabiya, Selasa (17/7/2018) Akbar Mahomed adalah cucu pengusaha dan pelancong Bengali, Sake Dean Mahomed, yang membuka rumah pertama di London. Dr. Akbar Mahomed bekerja di Guy’s Hospital di London yang merupakan pusat penelitian penting untuk penyakit hipertensi dan ginjal.

Sebelumnya pada tahun 1869, Akbar Mahomed secara singkat bekerja di Rumah Sakit Sussex County pada usia 20 tahun. Di Rumah Sakit Guy’s, ia memenangkan Penghargaan Fisik Masyarakat Pupil pada tahun 1871 untuk karyanya dalam memodifikasi dan meningkatkan penggunaan sphygmograph atau instrumen, guna mengukur denyut nadi dan tekanan darah.

Sphygmograph barunya itu dinyatakan lebih baik dalam hal pengukuran. Serta membantu mendiagnosis antara denyut nadi yang merupakan gejala berbagai penyakit jantung atau ginjal.

Pada abad ke-19, dia juga mulai berinovasi dalam penyelidikan klinis di Inggris, dan telah diakui sebagai sang visioner. Karena, dirinya bisa menguraikan fitur karakteristik dari tekanan nadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi, atau pasien dengan arteriosklerosis akibat penuaan.

Pada tahun 1871, Akbar Mahomed bergabung dengan Suffolk Sick di London Tengah, di mana dia mempelajari pelacakan sphygmographic dari banyak pasiennya. Dia menyimpulkan, hipertensi menjadi peristiwa utama dan terpisah yang menyebabkan kerusakan ginjal fungsional, sebelum pembuangan albumin dalam urin.

Sementara itu, dia menunjukkan bahwa tekanan darah tinggi bisa ada bahkan pada individu yang tampaknya sehat. Dia juga mengklarifikasi seberapa tinggi ketegangan arteri yang dapat mempengaruhi jantung, ginjal, dan otak tanpa timbulnya penyakit ginjal, sampai pada usia tua.

Selanjutnya, ia bekerja sebagai petugas medis residen di Rumah Sakit London Fever. Akbar Mahomed juga mempelopori pengembangan Collective Investigation Record, pendahulu uji klinis kolaboratif modern, dan juga memelopori transfusi darah dalam pendarahan tifoid, dan membuat kontribusi yang signifikan terhadap manajemen bedah usus buntu.

Tahun 1883, upaya Akbar Mahomed mencapai puncaknya pada Komite Investigasi Kolektif yang menghasilkan rekaman 76 halaman dari lebih 2.000 pasien.

Keluarga Akbar Mahomed dikabarkan tinggal di St Thomas ‘Street dan kemudian pindah ke Manchester Square. Sayangnya, Dr. Akbar Mahomed meninggal pada November 1884 ketika ia baru berusia 35 tahun. Dia menderita tifus selama kurang lebih 24 hari, yang ia kontraksi dari seorang pasien.

Kematian Dr. Akbar Mahomed ternyata meninggalkan luka mendalam di dunia medis, seperti Medical Press dan British Medical Journal. Mereka menyatakan hari meninggalnya Akbar Mahomed sebagai hari berkabung nasional dan internasional. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here