Aisha Lulu, Gadis Kecil Palestina Hadapi Kanker Otak Seorang Diri

341

Seluruh kerabat dilarang

Muna (27) menangis setiap hari setelah anaknya pergi ke rumah sakit di Yerusalem tanpa anggota keluarga mendampingi. (foto: Mohammed Al-Hajjar)

Pemakaman Aisha diadakan pada malam di hari dia meninggal.

Ayahnya, Wissam (37) memeluknya, menangis. Muna pingsan. Seluruh lingkungan merasakan penderitaan mereka.

Aisha telah dirawat di Yerusalem dari 17 April hingga 13 Mei. Pada saat dia meninggal, Aisha telah hampir sebulan terpisah dari keluarganya.

Tidak ada izin yang bisa diperoleh. Orangtuanya berusaha, keluarganya berusaha, paman dan bibinya mencoba, bahkan neneknya yang berusia 75 tahun mengajukan izin kepada militer Israel untuk menemani sang anak. Namun, tidak ada yang berhasil.

Wissam mengatakan, dia dan saudaranya, Hussam, menelepon sebanyak mungkin kontak di Otoritas Palestina untuk bisa melihat apakah ada di antara mereka yang bisa membantu menekan pihak Israel.

Namun, itu tetap tidak berhasil. Hussam bahkan meyakinkan sejumlah orang yang tidak terkait untuk mengajukan izin. Setiap upaya pun ditolak.

Namun akhirnya, Hussam menemukan seorang teman keluarga, Halima Edais, dari kamp pengungsian pantai di Gaza City. Edais mendapat izin untuk menemani Aisha.

Pada 17 April, keluarga memasukkan Aisha ke dalam mobil bersama Edais dan memandanginya pergi.

“Saya menatapnya dan menangis,” kenang Wissam. “Saya tidak percaya betapa kejamnya itu, membiarkan seorang anak kecil pergi sendirian tanpa keluarganya.”

Sebelum pergi, Aisha yang menangis diberi tahu oleh ibunya bahwa dia harus bertahan tanpa keluarganya untuk sementara waktu, untuk kemudian bisa kembali dan bermain dengan ketiga saudara kandungnya lagi.

Namun, itu tidak banyak membantu. Ketika Aisha tiba di Yerusalem, hal pertama yang dia lakukan adalah menangis dan memanggil keluarganya, demikian kisah ayahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here