Agama dan Millenial di Amerika 

89

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Tanggal 10 Desember lalu RNS (Religion News Service) merilis sebuah berita Yang menarik dengan judul: “Religion Declining in Importance for many Americans: Especially among Millennials”. Bahwa urgensi agama sangat menurun di kalangan warga Amerika, khususnya di kalangan anak-anak muda atau millenial.

Survei itu dilakukan oleh American Family Survei, sebuah survei tahunan yang dilakukan untuk mengetahui trendi kehidupan publik bangsa Amerika bekerjasama dengan Center for the Study of Election and Democracy di Brigham Young University.

Hasilnya tidak mengejutkan sesungguhnya. Bahwa lebih 43% masyarakat Amerika tidak lagi melihat urgensi agama sebagai identitas. Dan yang lebih parah lagi adalah hampir 50% kalangan muda Amerika percaya jika agama itu penting dalam kehidupan dan identitas.

Penemuan ini sesungguhnya tidak mengejutkan dan bukan sesuatu yang baru. Sejak lama telah menjadi informasi umum bahwa agama di Amerika dan Barat secara umum tidak saja dianggap tidak penting. Bahkan dianggap penghalang, bahkan racun (poison) bagi kemajuan itu sendiri.

Bukti langsung dari fenomena itu adalah bahwa gereja-gereja semakin kosong. Bahkan banyak yang kemudian tertutup atau bangkrut. Dan selebrasi atau perayaan-perayaan keagamaan lebih banyak termotivasi material atau bisnis (business oriented celebration) ketimbang sebagai agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here