Adiksi Gawai

399

Oleh: Muslich Taman (Praktisi Pendidikan Karakter Anak)

Sungguh memprihatinkan, berita beberapa hari dalam sepekan ini. Korban mulai berjatuhan. Bagai gunung es, yang seolah tampak kecil, tetapi hakikatnya besar, tersembunyi mencengkeram. Penyesalan dan ratapan, selalu datang belakangan. Dan, hanya menyisakan kesedihan amat mendalam.

Seorang ahli kesehatan menyatakan, bahwa 1 dari 6 anak pemakai gadget secara berlebihan, telah mengalami adiksi, bahkan telah mengarah pada gangguan kejiwaan. Kalau tidak diatasi, akan sangat berbahaya bagi kelanjutan hidup di masa depannya.

Saat saya menuliskan keprihatinan ini, pun saya sedang menyimak berita di sebuah stasiun TV swasta, tentang 15 anak yang baru saja masuk rumah sakit jiwa, gara-gara pemakaian secara berlebihan benda mungil ini.

Dan yang sangat menyedihkan, mereka rata-rata adalah para anak, yang masih segar usianya. Usia SD, SMP, dan SMA. Generasi yang konon kita berharap, kelak menjadi pelanjut estafet pembangunan bangsa dan umat ini.

Namun perlu diketahui, bahwa korban dari bahaya gadget ini, ternyata tidak hanya menyasar anak-anak dan remaja. Juga menimpa orang-orang dewasa. Tak sedikit dari mereka yang juga telah kecanduan. Telah terpapar. Mereka merasa gelisah tanpa pegang gadget. Saat bangun tidur, yang pertama kali dicari adalah gadget.

Begitu juga saat hendak tidur, yang terakhir dipegang adalah gadget. Benar-benar luar biasa ketergantungan padanya. Mereka menjadi tampak tidak peka dengan lingkungan. Mudah murung. Makin egois, sekaligus juga sensitif.

Pada diri anak, di antara gejala yang sering muncul, biasanya, gampang marah. Malas dan kurang peduli dengan orang lain, orangtua sekalipun. Makin sensitif dengan hal yang menyinggung perasaannya. Kalau tidak dituruti kemauannya, langsung emosi, membanting atau merusak barang.

Lebih-lebih saat gadget habis kuota atau pulsanya. Emosinya, makin tinggi dan labil. Suka melamun dan bengong. Sering menghabiskan waktu di atas kasur atau kursi sendirian. Tidak tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang harus meninggalkan gadget dari genggaman tangannya.

Di atas, adalah fakta di depan mata kita hari ini. Dan kita harus peduli mencarikan solusi. Menurut saya, paling utama adalah peran orangtua. Setiap orangtua harus bisa menjadi teladan yang baik, termasuk dalam penggunaan gadget tersebut.

Berikutnya, orangtua mesti lebih berhati-hati memberikan gadget untuk anaknya. Kurangi atau batasi pemakaiannya. Dan ini harus tegas. Selanjutnya, mengarahkan dan membimbing penggunaannya, agar anak lebih bijak menggunakannya.

Kemudian, jangan lupa carikan kegiatan lain, yang lebih bermanfaat dan lebih menarik baginya daripada bermain dengan gadget. Juga, carikan lingkungan yang baik. Pastikan, anak usia 0-2 tahun jangan dikenalkan gadget.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here