Adab dalam Bertamu

48

Muslim Obsession – Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan tentang anjuran memuliakan para tamu.

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan tentang anjuran memuliakan para tamu.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya,” (HR Muslim).

Silaturahim adalah satu hal yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Selain dapat mempererat hubungan persaudaraan, silaturahim juga dapat memberi banyak manfaat bagi seseorang yang senantiasa menjaga dan melakukannya.

Salah satu bentuk memuliakan para tamu adalah dengan cara menjaga adab-adab atau etika yang berlaku tatkala seseorang kedatangan tamu di rumahnya.

Dalam kitab Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, dijelaskan mengenai adab-adab dalam menerima tamu:

مِنْ آدَابِ الْمُضِيفِ أَنْ يَخْدُمَ أَضْيَافَهُ وَيُظْهِرَ لَهُمْ الْغِنَى، وَالْبَسْطَ بِوَجْهِهِ، فَقَدْ قِيلَ: الْبَشَاشَةُ خَيْرٌ مِنْ الْقِرَى -وَمِنْ آدَابِ الْمُضِيفِ أَيْضًا أَنْ يُحَدِّثَهُمْ بِمَا تَمِيلُ إلَيْهِ أَنْفُسُهُمْ، وَلَا يَنَامَ قَبْلَهُمْ، وَلَا يَشْكُوَ الزَّمَانَ بِحُضُورِهِمْ، وَيَبَشُّ عِنْدَ قُدُومِهِمْ، وَيَتَأَلَّمُ عِنْدَ وَدَاعِهِمْ، وَأَنْ لَا يَتَحَدَّثَ بِمَا يُرَوِّعُهُمْ بِهِ، بَلْ لَا يَغْضَبُ عَلَى أَحَدٍ بِحَضْرَتِهِمْ لِيُدْخِلَ السُّرُورَ عَلَى قُلُوبِهِمْ بِكُلِّ مَا أَمْكَنَ . وَعَلَيْهِ أَيْضًا أَنْ يَأْمُرَ بِحِفْظِ نِعَالِ أَضْيَافِهِ، وَيَتَفَقَّدَ غِلْمَانَهُمْ بِمَا يَكْفِيهِمْ، وَأَنْ لَا يَنْتَظِرَ مَنْ يَحْضُرُ مِنْ عَشِيرَتِهِ إذَا قَدَّمَ الطَّعَامَ إلَى أَضْيَافِهِ

“Sebagian adab penerima tamu (kepada tamunya) adalah (1) melayani para tamu (dengan menyediakan jamuan), (2) menampakkan kondisi serbacukup, dan (3) menunjukkan wajah gembira—ada pepatah mengatakan, ‘Menunjukkan wajah riang gembira lebih baik dari memberi suguhan (tanpa disertai wajah yang gembira)’.

Adab penerima tamu yang lain adalah (4) mengajak ngobrol para tamu dengan hal-hal yang disukai mereka, (5) tidak tidur terlebih dahulu sebelum mereka pergi atau beristirahat, (6) tidak mengeluh tentang waktu dengan kehadiran mereka, (7) menampakkan wajah berseri-seri ketika para tamu datang, (8) merasa sedih saat mereka pergi, (9) tidak bercakap tentang sesuatu yang  membaut mereka takut, (10) tidak marah kepada siapa pun selama mereka bertamu agar sebisa mungkin tetap tertanam suasana bahagia di hati mereka.

Bagi penerima tamu, (11) hendaknya memerintahkan kepada para tamu agar menjaga sandal mereka, (12) memberi sesuatu (oleh-oleh) kepada anak-anak kecil dari para tamu, dan (12) tidak menunggu orang yang akan datang ketika ia masih menyuguhi jamuan kepada para tamunya,” (Muhammad bin Ahmad bin Salim as-Safarini, Ghida’ al-Albab Syarh Mandzumah al-Adab, juz 2, hal. 116-117). (Way)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here